Ganis Atmawarin
About Writing Reading Running Newsletter
Dwight Schrute Line di SoftwareSeni

Dwight Schrute Line di SoftwareSeni

Salah satu prestasi mengkilat kebanggaan saya di kantor. Berhasil meletakkan quote dari karakter tv series favorit saya, Dwight Schrute.


Biar saya cerita konteksnya.

Di kantor SoftwareSeni, ada satu dinding yang kami sebut — secara tidak resmi — “the wall of wisdom.” Ini bukan dinding resmi yang disetujui manajemen melalui rapat formal. Ini lebih mirip proyek gerilya yang terjadi secara organik: seseorang menempelkan satu quote, orang lain menambahkan, dan perlahan dinding itu berubah menjadi galeri kata-kata dari orang-orang yang mungkin tidak pernah menginjak kantor di Jogja ini.

Steve Jobs ada di sana. Elon Musk juga. Beberapa quote motivasi generik yang kamu temukan di Pinterest kalau search “inspirational quotes for office.” Standar.

Dan di antara deretan quotes dari tokoh-tokoh yang serius dan terhormat itu, saya berhasil menyelipkan satu dari Dwight Kurt Schrute III.

Karakter fiksi. Asisten Regional Manager — maaf, Assistant to the Regional Manager — dari Dunder Mifflin, sebuah perusahaan kertas fiksi di Scranton, Pennsylvania. Orang yang percaya bahwa beets, bears, dan Battlestar Galactica adalah tiga pilar peradaban.

Dan quote-nya nempel di dinding kantor kami. Di antara Jobs dan Musk. Tanpa ada yang protes.

Ini, menurut saya, adalah salah satu indikator terbaik tentang culture sebuah perusahaan.

Kenapa The Office Penting

Saya tahu ini terdengar berlebihan. Sebuah sitkom tentang kantor — bagaimana bisa relevan dengan manajemen sungguhan?

Tapi inilah yang membuat The Office jenius. Di balik joke-joke absurd dan momen-momen cringe Michael Scott, show ini adalah studi kasus paling jujur tentang dinamika kantor yang pernah dibuat.

Pikirkan: apa yang sebenarnya terjadi di Dunder Mifflin? Sekelompok orang yang bukan teman pilihan mereka sendiri, dipaksa menghabiskan delapan jam sehari bersama, melakukan pekerjaan yang seringkali membosankan, untuk perusahaan yang sedang sekarat. Dan somehow — entah bagaimana — mereka menemukan joy di dalamnya.

Jim dan Dwight bertengkar setiap hari, tapi ketika Dwight butuh bantuan, Jim ada. Michael Scott adalah bos terburuk yang bisa kamu bayangkan dalam banyak hal, tapi dia genuinely care tentang “family”-nya. Angela, Stanley, Kevin, Oscar — mereka semua punya quirk yang annoying, tapi mereka juga punya momen-momen kemanusiaan yang unexpected.

Ini bukan tentang efisiensi. Ini tentang belonging.

Dan belonging — rasa memiliki, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari pekerjaan itu sendiri — adalah fondasi dari culture perusahaan yang sehat. Bukan poster motivasi di dinding. Bukan unlimited PTO. Bukan meja ping-pong.

Belonging.

Hal-Hal Kecil

Di SoftwareSeni, culture bukan sesuatu yang kami desain dari atas ke bawah. Bukan hasil dari retreat perusahaan di mana kami brainstorm “core values” dan menuliskannya di slide deck. Bukan.

Culture kami terbentuk dari hal-hal kecil. Kecil sekali. Nyaris tak terlihat.

Seperti quote Dwight Schrute di dinding.

Atau kebiasaan satu developer yang selalu membawa makanan dari rumah dan menawarkan ke semua orang. Atau cara kami memanggil bug yang parah sebagai “kebakaran” dan bug yang kecil sebagai “asap” — terminologi yang entah dimulai siapa, tapi semua orang pakai.

Atau ritual kopi jam tiga sore, ketika beberapa orang berdiri di dekat mesin kopi bukan karena butuh kafein, tapi karena butuh jeda. Percakapan yang terjadi di sana — tentang film, tentang game, tentang kenapa traffic Jogja makin gila — kadang menghasilkan ide-ide yang tidak muncul di meeting room.

Edgar Schein, profesor MIT yang mungkin orang paling serius di dunia tentang organizational culture, bilang bahwa culture bukan apa yang tertulis di website perusahaan. Culture adalah asumsi-asumsi tak terucapkan yang menentukan bagaimana orang berperilaku ketika tidak ada aturan eksplisit.

Quote Dwight di dinding adalah salah satu asumsi tak terucapkan itu. Asumsinya: kita boleh tidak serius. Kita boleh tertawa. Kita boleh menjadi manusia di tempat kerja, bukan robot yang kebetulan bisa ngoding.

Humor Sebagai Indikator

Saya percaya kamu bisa menilai kesehatan sebuah organisasi dari humor-nya.

Kantor yang sehat punya inside jokes. Punya referensi yang cuma dimengerti orang dalam. Punya kemampuan untuk menertawakan diri sendiri — termasuk menertawakan bos. Di SoftwareSeni, saya sering jadi bahan joke. Dan saya menganggap itu tanda yang baik. Karena orang hanya bercanda tentang orang yang mereka nyaman di dekatnya.

Kantor yang tidak sehat punya humor yang tajam dan melukai — sarkasme yang sebenarnya adalah agresi pasif. Atau lebih buruk lagi, tidak punya humor sama sekali. Semua serius. Semua formal. Semua “professional.”

Professional itu penting. Tapi profesionalisme tanpa kemanusiaan adalah cangkang kosong.

Michael Scott, dengan semua kekurangannya, memahami ini secara intuitif. Caranya salah — selalu salah — tapi niatnya benar: dia ingin kantornya menjadi tempat di mana orang ingin datang, bukan tempat yang harus didatangi. Dan buktinya? Ketika dia pergi, semua orang menangis. Bukan karena dia bos yang baik. Karena dia manusia yang peduli.

Dinding dan Identitas

Kembali ke dinding di SoftwareSeni.

Dinding itu, setelah bertahun-tahun, menjadi semacam artefak. Museum mini tentang siapa kami. Ada quote yang serius dari pemikir besar — karena kami memang serius tentang pekerjaan kami. Ada quote yang absurd dari karakter fiksi — karena kami juga tahu bahwa hidup terlalu pendek untuk tidak tertawa.

Siapa yang menempelkan quote pertama? Saya tidak ingat. Tidak ada yang ingat. Dan itu indah — karena ini berarti dinding itu bukan proyek seseorang. Ini proyek semua orang.

Perusahaan-perusahaan besar sering menghabiskan jutaan untuk branding internal. Mereka menyewa konsultan, membuat poster besar dengan foto-foto tim yang tersenyum terlalu lebar, memasang neon sign “INNOVATE” di lobby. Dan semua itu terasa palsu. Karena culture yang didesain dari atas, seperti humor yang di-script, kehilangan hal terpentingnya: spontanitas.

Culture terbaik adalah yang tidak disuruh tumbuh. Ia tumbuh karena tanahnya benar — karena orang-orangnya diberi ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

Apa yang Saya Pelajari

Kalau saya harus meringkas apa yang saya pelajari tentang office culture menjadi satu kalimat: biarkan orang menjadi aneh. Biarkan mereka menempelkan quote Dwight Schrute di dinding. Biarkan mereka menamakan ruang meeting dengan nama karakter anime. Biarkan mereka membawa tanaman ke meja kerja. Biarkan mereka jadi manusia.

Karena orang yang diberi ruang untuk menjadi diri sendiri akan bekerja lebih baik. Bukan karena mereka lebih produktif — mungkin iya, mungkin tidak. Tapi karena mereka lebih present. Mereka ada di sana dengan seluruh diri mereka, bukan versi terpotong yang “sesuai aturan kantor.”

Dan ketika orang benar-benar hadir — dengan seluruh keanehan, humor, passion, dan quirk mereka — hal-hal ajaib terjadi. Ide mengalir lebih bebas. Kolaborasi terasa lebih natural. Masalah diselesaikan lebih cepat, bukan karena prosesnya lebih efisien, tapi karena orang-orangnya genuinely peduli satu sama lain.

Saya tidak tahu quote Dwight yang mana yang saya tempelkan waktu itu. Mungkin “Identity theft is not a joke, Jim!” Mungkin “Whenever I’m about to do something, I think, would an idiot do that? And if they would, I do not do that thing.” Mungkin sesuatu yang lain — memori saya kabur di bagian detail.

Tapi saya ingat dengan jelas perasaannya: berdiri di depan dinding itu, melihat quote dari karakter sitkom favorit saya di antara deretan pemikir besar dunia, dan merasa bahwa kantor ini — dengan segala ketidaksempurnaannya — adalah tempat yang tepat.

Bukan karena pekerjaan kami penting (meskipun kami suka berpikir begitu). Tapi karena cara kami melakukannya — dengan sedikit Dwight Schrute di antara semua keseriusan — membuat semuanya jadi layak dijalani.

Dan bukankah itu inti dari bekerja? Bukan hanya mencari nafkah. Tapi menemukan komunitas. Menemukan humor. Menemukan alasan untuk bangun pagi selain gaji.

Dwight, mungkin, akan mengatakan sesuatu yang jauh lebih dramatis. Mungkin melibatkan bears. Atau beets. Atau kedaulatan pertanian keluarga Schrute.

Tapi intinya sama: tempat kerja terbaik bukan yang paling efisien. Tapi yang paling manusiawi.

Oktober 26, 2017
Tribute to

Beatrice Warde

Inspired by Beatrice Warde's The Crystal Goblet (1932). Warde argued that typography should be invisible — like a crystal goblet that reveals the wine inside. Good type doesn't draw attention to itself; it draws attention to the words. She was one of the first great type scholars and the only woman in a room full of men who didn't know what they were looking at.

Typography — Perpetua + Gill Sans (in spirit)Color — #2C3E50
Tags:
work story softwareseni culture

Related Posts

Pakuningratan No.15

Memberikan Feedback - Tips Untuk Team Lead

Berbeda Sebagai Strategi

Teknologi Bukan Kompetitif Advantage untuk Perusahaan Software

Previous article next article
back to all articles
About Me

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Founder of Synetica. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, black hair. Chicken at party, lion at Pingpong.

Ganis Atmawarin signature
Navigations
Writing Reading About Running Newsletter Favourite
Contacts
I'm based in Yogyakarta
ganis@atmawarin.com
Send Message
subscribe To my weekly newsletter
No spam. Unsubscribe anytime.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Typography: The majestic Abril Fatface by Veronika Burian and José Scaglione & the effortlessly versatile Karla by Jonathan Pinhorn
All contents created by me, unless otherwise noted. You are allowed to copy, distribute, or display your derivative copy of my works without my permission