No. 06 After Dieter Rams, 1956
Memperkecil Dunia
Dua teman lama mengajak saya bikin startup. Saya butuh seminggu untuk menulis dua kalimat penolakan.

Bulan Mei itu, ketika Jogja mulai dingin, masuk pesan di HP saya dari dua teman lama. “Yuk bikin startup.” Hmm. Saya membalas, lalu masuk ke grup WhatsApp yang mereka buat.
Di luar dugaan, ngobrol di grup itu menyalakan semacam api di badan saya. Kami membahas rencana, kualitas produk, cashflow, supplier, kompetitor, dan makin lama saya makin yakin ide ini sangat mungkin jadi nyata. Track record mereka juga bagus, dan mereka teman nongkrong jaman kuliah. Keinginan saya untuk ikut terjun makin besar setiap kali grup itu berbunyi.
Siapa pun yang pernah kerja di bidang IT pasti pernah ketemu situasi begini. Ajakan dari orang yang mereka kenal baik, untuk peluang yang lebih bagus secara finansial. Kebanyakan bilang iya, lalu menumpuk komitmen baru di atas komitmen yang sudah ada.
Menurut saya ini potensi jebakan batman.
Mati karena terlalu banyak makan
Dalam salah satu interview, David Packard, founder Hewlett-Packard, menyebut bahwa lebih banyak organisasi yang mati karena tidak bisa menelan daripada karena kelaparan.
Kalimat itu kena, karena saya pernah mengalaminya. Mengiyakan project yang sebetulnya tidak membuat saya berkembang, cuma karena alasan uang, adalah musibah. Musibah yang di awal terasa sangat masuk akal.
Sekitar 2014 atau 2015, seorang teman, pemilik studio WordPress dari Jakarta, mengajak saya menggarap ide startup itinerari. Orangnya oke. Project-nya oke, di bidang yang saya kuasai waktu itu (reservasi dan travel). Tapi jujur saja, ide itu tidak benar-benar resonate buat saya. Saya iyakan juga.
4 bulan kemudian, saya kehilangan waktu dan uang. Yang jauh lebih buruk, saya kehilangan kepercayaan seorang teman.
Saya mencoba makan lebih banyak dari yang bisa saya telan, dan yang tersedak ternyata tidak cuma saya.
Seni mengatakan tidak
Bilang tidak itu sulit. Apalagi kalau yang menawarkan orang yang kamu hormati, dan tawarannya terdengar masuk akal.
Saya belajarnya dengan cara yang mahal: setiap “iya” adalah “tidak” untuk hal lain. Setiap project sampingan memakan waktu dari project utama. Setiap komitmen baru mengambil energi dari komitmen yang sudah ada.
Greg McKeown dalam Essentialism menyebutnya “the disciplined pursuit of less.” Ini tidak sama dengan malas, atau tidak ambisius. Kamu cuma sadar tidak bisa mengerjakan semuanya dengan baik sekaligus. Kalau tetap dicoba, semuanya jadi medioker. Saya punya empat bulan sebagai buktinya.
Beberapa tahun lalu, salah satu mentor saya bertanya: “Kalau kamu cuma boleh mengerjakan satu hal tahun ini, apa itu?” Pertanyaannya sederhana. Saya butuh seminggu untuk menjawabnya. Memilih satu berarti melepas yang lain, dan melepas itu sakit, terutama untuk orang yang ingin semuanya.
Dunia yang lebih kecil, lebih jelas
Kembali ke grup WhatsApp tadi. Saya minta maaf dan bilang tidak kepada dua teman baik itu. Mereka mengerti. Dan saya yakin startup mereka akan berhasil.
Keputusannya tidak dramatis. Tidak ada momen pencerahan. Cuma pesan WhatsApp: “Maaf bro, gak bisa ikut. Good luck ya.” Dua kalimat yang butuh seminggu untuk ditulis. Kurang lebih satu kata per hari.
Setelah pesan itu terkirim, ada lega yang aneh. Seperti menaruh tas berat yang tidak sadar sudah kamu panggul ke mana-mana. Kepala lebih jernih, dan energi saya pulang ke tempat yang seharusnya.
Paradoks opportunity
Di zaman ketika semua orang didorong untuk “seize every opportunity” dan “hustle harder,” memilih memperkecil dunia terasa aneh. LinkedIn penuh cerita orang yang menjalankan 3 bisnis sekaligus. Instagram penuh mantra “sleep when you’re dead.” Teman-teman di circle IT selalu punya side project baru.
Tapi saya perhatikan, orang-orang yang saya kagumi, yang benar-benar hebat di bidangnya, biasanya punya dunia yang kecil. Mereka memilih satu hal lalu mendalaminya bertahun-tahun.
Ada cerita yang sering dikaitkan dengan Warren Buffett, “25-5 Rule”, walaupun kemungkinan besar bukan dari dia: tulis 25 goals, pilih 5 teratas, dan hindari sisanya seperti wabah. Tidak ditunda. Dihindari. Goals nomor 6 sampai 25 justru yang paling berbahaya. Cukup menarik untuk mencuri perhatian, tidak cukup penting untuk dapat komitmen penuh. Startup itinerari saya dulu jelas ada di urutan itu.
Steve Jobs, di WWDC 1997, pernah bilang bahwa fokus bukan soal mengatakan iya ke hal yang penting. Fokus adalah mengatakan tidak ke ratusan ide bagus lainnya. Yang bagus, bukan yang buruk. Di situ susahnya.
Orang-orang paling penting
Dunia yang kecil dan sederhana membuat saya bisa melakukan satu hal yang paling menakjubkan: benar-benar ada untuk orang-orang yang paling penting dalam hidup saya.
Gita. Zen. Tim di kantor. Teman dekat yang bisa dihitung dengan satu tangan.
Saya bukan tidak peduli dengan orang lain. Saya cuma sadar perhatian itu terbatas. Kalau disebar terlalu tipis, tidak ada yang benar-benar kebagian. Termasuk saya sendiri.
Ada kalimat Annie Dillard yang sering saya ingat: “How we spend our days is, of course, how we spend our lives.” Kalau hari-hari saya habis untuk melompat dari satu project ke project lain, dari satu meeting ke meeting lain, dari satu grup chat ke grup chat lain, ya itulah hidup saya. Terpecah-pecah. Sibuk, tapi kosong.
Saya lebih memilih hari-hari yang kecil. Lebih sedikit hal, lebih dalam. Lebih sedikit orang, lebih hadir.
Praktik sehari-hari
Memperkecil dunia ternyata bukan satu keputusan besar. Isinya ribuan keputusan kecil, setiap hari.
Tidak mem-follow orang baru di social media yang isinya bikin insecure. Tidak datang ke event networking yang sebenarnya cuma makan-makan. Tidak mengambil meeting yang bisa selesai lewat email. Tidak bilang “let’s catch up sometime” kepada orang yang, jujur saja, tidak benar-benar ingin kamu ajak catch up.
Setiap “tidak” kecil itu membuka ruang. Ruang yang tadinya penuh noise dan kewajiban bisa diisi hal yang benar-benar penting. Atau dibiarkan kosong. Di ruang kosong itu kamu bisa berpikir, melamun, bahkan bosan. Dan dari bosan, kadang muncul ide yang paling bagus.
Saya masih belajar. Setiap bulan ada tawaran baru, opportunity baru, ide baru yang menggoda. Setiap kali, ada pertempuran kecil di kepala antara “ini bisa seru” dan “tapi duniamu sudah cukup.”
Kadang “ini bisa seru” yang menang, dan piring saya bertambah satu lauk lagi. Kadang saya menyesal, kadang tidak. Tapi makin sering, yang menang “duniamu sudah cukup.”