
Memperkecil Dunia
Mei itu, ketika Jogja mulai menjadi dingin, muncul pesan di hp saya dari dua orang teman lama. “Yuk bikin startup.” Hmm. Saya membalas pesan itu dan masuk ke dalam grup Whatsapp yang ia buat.
Di luar dugaan, bercakap-cakap di sana menyalakan semacam api dalam tubuh saya. Kami membicarakan rencana, kualitas produk, cashflow, supplier, kompetitor dan saya sepakat bahwa ini adalah ide yang sangat bisa jadi nyata. Ditambah lagi dengan track record baik dari mereka yang juga adalah teman nongkrong jaman kuliah, keinginan untuk terjun ke dalamnya semakin besar lagi.
Saya yakin siapapun yang pernah bekerja di bidang IT akan selalu bertemu dengan hal yang seperti ini dalam perjalanan karir mereka. Ajakan dan kesempatan untuk lebih baik lagi secara finansial dari orang yang mereka paham. Dan kebanyakan mengatakan iya untuk kesempatan ini — dengan resiko menambah komitmen yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Ini adalah potensial jebakan batman menurut saya.
Mati Karena Terlalu Banyak Makan
Dalam salah satu interview, David Packard, founder dari Hewlett-Packard, menyebut kalau alih-alih kelaparan, lebih banyak organisasi yang mati karena gak bisa menelan.
Yang Packard katakan mengena buat saya, karena saya pernah mengalami ini sebelumnya. Mengatakan iya kepada project yang sebenernya tidak benar-benar membuat saya bisa berkembang, dan mengambilnya karena alasan finansial, adalah musibah.
Ini terjadi sekitar 2014 atau 2015 silam ketika seorang teman dan pemilik studio WordPress dari Jakarta mengajak untuk membuat ide tentang startup itinerari. Orang-orangnya oke, projectnya oke di bidang yang saya kuasai waktu itu (reservasi dan travel), namun jujur saja tidak benar-benar resonate untuk saya.
Hasilnya? 4 bulan berlalu, saya kehilangan tidak hanya waktu dan uang, tapi jauh lebih buruk dari itu — kepercayaan teman.
Saya mencoba memakan lebih banyak dari apa yang saya bisa telan.
Seni Mengatakan Tidak
Mengatakan tidak itu sulit. Terutama ketika yang menawarkan adalah orang yang kamu hormati, dan penawarannya terdengar masuk akal.
Tapi saya belajar — dengan cara yang mahal — bahwa setiap “iya” yang kamu ucapkan adalah “tidak” untuk hal lain. Setiap project sampingan yang kamu ambil adalah waktu yang diambil dari project utamamu. Setiap komitmen baru adalah energi yang dicuri dari komitmen yang sudah ada.
Greg McKeown dalam Essentialism menyebutnya “the disciplined pursuit of less.” Bukan malas. Bukan tidak ambisius. Tapi sadar bahwa kamu tidak bisa melakukan semuanya dengan baik secara bersamaan. Dan mencoba melakukannya justru membuat semuanya jadi medioker.
Saya ingat percakapan dengan salah satu mentor saya beberapa tahun lalu. Dia bertanya: “Kalau kamu cuma boleh mengerjakan satu hal tahun ini, apa itu?” Pertanyaan yang sederhana, tapi jawaban saya butuh waktu seminggu untuk diformulasikan. Karena ketika kamu memilih satu, kamu harus melepaskan yang lain. Dan melepaskan itu menyakitkan.
Dunia yang Lebih Kecil, Lebih Jelas
Lanjut cerita, saya meminta maaf dan mengatakan tidak kepada tawaran dari dua teman baik saya tadi. Mereka mengerti. Dan saya yakin mereka akan sukses di startup mereka.
Keputusan itu tidak dramatic. Tidak ada momen epiphany atau revelation. Cuma pesan WhatsApp: “Maaf bro, gak bisa ikut. Good luck ya.” Dua kalimat yang butuh seminggu untuk ditulis.
Tapi setelah mengirim pesan itu, ada kelegaan yang aneh. Seperti menaruh tas berat yang tidak sadar sudah kamu bawa kemana-mana. Tiba-tiba jalan terasa lebih ringan. Pikiran lebih jernih. Energi kembali fokus ke tempat yang seharusnya.
Paradoks Opportunity
Di era di mana semua orang didorong untuk “seize every opportunity” dan “hustle harder,” memilih untuk memperkecil dunia terasa kontra-intuitif. LinkedIn penuh dengan cerita orang yang menjalankan 3 bisnis sekaligus. Instagram penuh dengan mantra “sleep when you’re dead.” Dan teman-teman di circle IT selalu punya side project baru yang exciting.
Tapi saya perhatikan sesuatu: orang-orang yang saya kagumi — yang benar-benar hebat di bidang mereka — biasanya punya dunia yang kecil. Mereka memilih satu hal dan mendalaminya selama bertahun-tahun.
Warren Buffett terkenal dengan “25-5 Rule”: tulis 25 goals, pilih 5 teratas, dan hindari sisanya seperti wabah. Bukan tunda — hindari. Karena goals nomor 6-25 adalah yang paling berbahaya: cukup menarik untuk mencuri perhatianmu, tapi tidak cukup penting untuk mendapatkan commitment penuh.
Jony Ive, mantan Chief Design Officer Apple, pernah bilang bahwa fokus bukan tentang mengatakan iya ke hal yang penting. Fokus adalah mengatakan tidak ke ratusan ide yang bagus. Yang bagus, bukan yang buruk. Itu bagian yang sulit.
Orang-Orang Paling Penting
Di era di mana semua orang bisa menjadi apapun, punya dunia yang kecil dan sederhana mengijinkan saya untuk melakukan hal yang paling menakjubkan: benar-benar ada untuk orang-orang paling penting bagi hidup saya.
Gita. Zen. Zia. Tim di kantor. Teman dekat yang bisa dihitung dengan satu tangan.
Bukan karena saya tidak peduli dengan orang lain. Tapi karena saya sadar bahwa attention itu finite resource. Dan kalau saya menyebarkannya terlalu tipis, tidak ada yang benar-benar mendapatkannya. Termasuk diri saya sendiri.
Ada quote dari Annie Dillard yang sering saya ingat: “How we spend our days is, of course, how we spend our lives.” Kalau hari-hari saya dihabiskan melompat dari satu project ke project lain, dari satu meeting ke meeting lain, dari satu chat group ke chat group lain — maka itulah hidup saya. Fragmentasi. Shallow. Sibuk tapi kosong.
Saya lebih memilih hari-hari yang lebih kecil. Lebih sedikit hal, tapi lebih dalam. Lebih sedikit orang, tapi lebih hadir. Lebih sedikit ambisi, tapi lebih bermakna.
Praktik Sehari-hari
Memperkecil dunia bukan satu keputusan besar. Ini ribuan keputusan kecil yang kamu buat setiap hari.
Tidak mengikuti orang baru di social media yang isinya bikin insecure. Tidak menghadiri event networking yang sebenernya cuma makan-makan tanpa substance. Tidak mengambil meeting yang bisa diselesaikan dengan email. Tidak bilang “let’s catch up sometime” kepada orang yang, jujur saja, kamu tidak benar-benar ingin catch up dengannya.
Setiap “tidak” kecil ini membuka ruang. Dan ruang itu — yang tadinya terisi dengan noise dan obligation — bisa kamu isi dengan hal yang benar-benar penting. Atau, kadang, kamu bisa membiarkan ruang itu kosong. Dan kekosongan itu sendiri sudah valuable. Karena di kekosongan itu, kamu bisa berpikir. Bisa melamun. Bisa bosan — dan dari kebosanan, kadang, muncul ide-ide terbaik.
Saya masih belajar ini. Setiap bulan ada tawaran baru, opportunity baru, ide baru yang menggoda. Dan setiap kali, ada pertempuran kecil di dalam diri antara “ini bisa seru” dan “tapi duniamu sudah cukup.”
Kadang “ini bisa seru” menang. Dan saya menambah satu hal lagi ke piring saya. Kadang saya menyesalinya, kadang tidak. Tapi semakin sering, “duniamu sudah cukup” yang menang. Dan setiap kali ia menang, ada kelegaan yang halus. Seperti meletakkan beban yang kamu tidak sadar sedang kamu bawa.
Memperkecil dunia bukan tentang menyerah. Ini tentang memilih. Dan memilih — dengan segala konsekuensinya — adalah hal paling dewasa yang bisa kamu lakukan.
