Ganis Atmawarin
About Writing Reading Running Newsletter
Muji Notebook + Uni-ball Signo UM-151

Muji Notebook + Uni-ball Signo UM-151

Saya tidak biasanya membuat tulisan tentang hal yang saya miliki, tapi untuk yang satu ini saya ingin membuat pengecualian. Muji Dotted Notebook + Uniball Signo UM-151 adalah surga.

Duo bolpen dan buku ini bisa melakukan apapun. Menulis catatan, brainstorming, menusuk mata orang, mengaduk kopi, sketching, semuanya bisa dilakukan dengan dengan mulus, mengalir cair.

PS: Yes, I know the pen looks corny.

Tapi saya ingin bicara lebih dari sekadar review produk. Saya ingin bicara tentang kenapa, di tahun 2017, ketika seluruh hidup kita bisa muat di dalam layar 6 inci, saya masih menulis dengan tangan. Di atas kertas. Dengan bolpen yang harganya dua puluh ribu rupiah.

Tentang Benda Fisik

Ada sesuatu yang terjadi ketika ujung Uni-ball Signo menyentuh kertas Muji untuk pertama kalinya. Suara gesekannya pelan — bukan scratchy seperti ballpoint murah, bukan terlalu smooth seperti gel pen mahal yang tintanya bleed kemana-mana. Ada resistensi yang pas. Seperti bolpen itu tahu seberapa keras kamu menekan dan menyesuaikan diri.

Kertas Muji yang dotted itu punya tekstur yang sulit dijelaskan tanpa menyentuhnya. Tidak terlalu halus, tidak terlalu kasar. Dot-nya abu-abu muda, nyaris tidak terlihat kecuali kamu mencarinya — cukup untuk menjadi guide, tapi tidak cukup untuk mengganggu. Ini adalah desain yang menghilang. Dan desain yang menghilang adalah desain terbaik.

Craig Mod — penulis dan walker yang menghabiskan hidupnya berjalan kaki melintasi Jepang — pernah menulis panjang lebar tentang hubungan kita dengan benda fisik. Tentang bagaimana buku yang bagus punya berat yang tepat di tangan. Tentang bagaimana physicality sebuah objek mengubah cara kita berinteraksi dengannya.

Mod benar. Notebook Muji di tangan saya punya berat yang tepat. Tidak terlalu ringan sehingga terasa murahan. Tidak terlalu berat sehingga malas dibawa. Cover-nya tanpa ornamen — cokelat sederhana, logo kecil, tanpa pretensi. Ketika saya membukanya, halaman-halamannya rebah dengan tenang, tidak melawan.

Ini bukan tentang fetishisme benda. Ini tentang friction yang benar.

Friction yang Disengaja

Di dunia digital, kita terobsesi menghilangkan friction. Satu klik untuk beli. Satu swipe untuk setuju. Satu tap untuk memesan makanan. Dan memang, untuk banyak hal, menghilangkan friction itu baik.

Tapi untuk berpikir? Friction itu perlu.

Ketika saya menulis di laptop, pikiran saya berlari lebih cepat dari jari saya. Saya menulis, menghapus, menulis lagi, copy-paste, rearrange, undo, redo — prosesnya cepat tapi dangkal. Seperti berenang di permukaan.

Ketika saya menulis dengan tangan, semuanya melambat. Saya harus memilih kata dengan hati-hati karena menghapus di kertas itu berantakan. Saya harus memikirkan struktur sebelum menulis karena tidak ada fitur cut-and-paste. Tangan saya pegal setelah beberapa paragraf, memaksa saya berhenti sebentar, dan dalam jeda itu sering muncul ide-ide yang tidak muncul kalau saya terus mengetik tanpa henti.

Slowness bukan bug. Slowness adalah fitur.

Penelitian dari Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer di Princeton — yang diterbitkan dalam paper terkenal The Pen Is Mightier Than the Keyboard — menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan memahami materi lebih baik daripada yang mengetik. Bukan karena catatan tulisan tangan lebih lengkap (justru sebaliknya), tapi karena proses menulis dengan tangan memaksa otak untuk memproses, meringkas, dan memilih — bukan sekadar mentranskripsi.

Otak kita bukan mesin fotokopi. Otak kita adalah mesin pengolah. Dan menulis dengan tangan adalah cara paling natural untuk mengaktifkan pengolahan itu.

Wabi-Sabi dan Alat yang Tidak Sempurna

Orang Jepang punya konsep yang disebut wabi-sabi — keindahan dalam ketidaksempurnaan, dalam ketidaklengkapan, dalam yang sementara. Mangkuk teh yang retak dan diperbaiki dengan emas (kintsugi). Kayu yang lapuk. Keramik yang tidak simetris.

Notebook Muji saya, setelah beberapa bulan, memiliki wabi-sabi-nya sendiri. Sudut-sudutnya sedikit melengkung. Cover-nya ada noda kopi — kecelakaan kecil di sebuah warung di Prawirotaman. Beberapa halaman lebih tebal karena tinta yang meresap dari sisi lain. Tulisan tangan saya di halaman pertama lebih rapi dari halaman terakhir, menceritakan perjalanan dari antusiasme ke kenyamanan.

Ini semua cacat. Dan cacat-cacat ini menjadikan notebook itu milik saya dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh file digital manapun. Evernote note saya terlihat sama dengan Evernote note siapapun. Tapi notebook ini — dengan noda kopinya, dengan garis-garis miring saya, dengan halaman yang terlipat sebagai bookmark karena saya terlalu malas mencari pembatas buku — ini unik.

Muji memahami sesuatu yang banyak perusahaan desain lewatkan: produk yang bagus bukan produk yang sempurna. Produk yang bagus adalah produk yang menjadi lebih baik seiring kamu memakainya. Yang bercerita tentang penggunanya, bukan tentang pembuatnya.

Uni-ball Signo UM-151

Sekarang, soal bolpennya. Uni-ball Signo UM-151 bukan bolpen cantik. Desainnya generik — plastik transparan, clip standar, tidak ada yang istimewa secara visual. Di rak toko, kamu mungkin melewatinya tanpa berpikir dua kali.

Tapi tulis satu kalimat dengannya, dan kamu mengerti.

Tinta gel-nya mengalir dengan konsistensi yang nyaris spiritual. Tidak ada blob di awal garis. Tidak ada fade di akhir. Line width-nya — 0.38mm untuk versi yang saya pakai — tipis tapi tegas. Cukup detail untuk sketsa kecil, cukup bold untuk catatan yang perlu dibaca ulang nanti.

Dan harganya? Dua puluh ribuan. Kadang lebih murah kalau beli grosir. Ini bolpen demokratis. Tidak eksklusif, tidak pretentious, tapi performanya mengalahkan banyak bolpen yang harganya sepuluh kali lipat.

Ada pelajaran di sini tentang hubungan antara harga dan kualitas yang tidak selalu linear. Kadang alat terbaik bukan yang termahal. Kadang alat terbaik adalah yang paling tepat — yang cocok dengan tanganmu, dengan kertasmu, dengan cara berpikirmu.

Orang Jepang punya istilah lain yang relevan: monozukuri, semangat membuat benda dengan perhatian dan kebanggaan. Uni-ball Signo UM-151 adalah produk monozukuri. Kamu bisa merasakan bahwa orang yang mendesainnya peduli — bukan terhadap bagaimana bolpen itu terlihat di etalase, tapi terhadap bagaimana rasanya di tangan saat menulis halaman kelima puluh.

Kenapa Analog Masih Penting

Saya bukan luddite. Hari-hari saya dihabiskan di depan layar — coding, managing, emailing. Laptop dan HP saya adalah alat kerja utama. Saya tidak akan pernah mengadvokasi untuk kembali ke zaman batu.

Tapi saya percaya bahwa analog dan digital punya peran yang berbeda, dan mencampuradukkannya adalah kesalahan.

Digital untuk menyimpan, mengorganisir, dan membagikan. Analog untuk berpikir, merenungkan, dan menemukan.

Setiap pagi, sebelum membuka laptop, saya menulis di notebook Muji selama lima sampai sepuluh menit. Bukan journaling yang serius — kadang cuma daftar belanjaan, kadang sketsa wireframe yang jelek, kadang curhat tentang bug yang tidak bisa saya fix kemarin. Tidak ada format. Tidak ada template. Tidak ada pressure untuk produktif.

Dan dalam ritual kecil ini — duduk, membuka notebook, melepas cap Uni-ball Signo, menulis — ada semacam grounding. Pengingat bahwa sebelum semua teknologi ini ada, manusia sudah berpikir dengan pena dan kertas. Dan pemikiran mereka tidak kalah hebat. Malah mungkin, kadang-kadang, lebih jernih.

Austin Kleon, penulis Steal Like an Artist, punya dua meja kerja: satu analog (kertas, bolpen, gunting, lem) dan satu digital (laptop). Dia memulai semua ide di meja analog, dan baru memindahkannya ke digital ketika ide itu sudah punya bentuk. Saya tidak se-disiplin Kleon, tapi prinsipnya resonan: ada tahap dalam berpikir yang lebih cocok dilakukan dengan tangan.

Notebook Ketiga

Notebook Muji saya sekarang sudah yang ketiga. Dua sebelumnya ada di rak buku, penuh dengan ide yang setengah jadi, gambar yang buruk, dan catatan yang kadang saya baca ulang dan tertawa sendiri. Uni-ball Signo saya sudah tak terhitung — setiap kali habis, saya beli lagi tanpa berpikir, seperti membeli beras.

Duo ini bukan alat yang mengubah hidup saya. Tapi duo ini adalah alat yang menemani hidup saya. Dan kadang, menemani itu sudah cukup.

Kalau kamu belum pernah mencoba menulis dengan tangan di atas kertas yang bagus dengan bolpen yang tepat, cobalah. Bukan untuk produktivitas. Bukan untuk aesthetic. Tapi untuk merasakan sesuatu yang sederhana: ujung pena di atas kertas, tinta yang mengalir membentuk huruf, pikiran yang melambat menjadi kata.

Itu saja. Dan itu sudah banyak.

Oktober 26, 2017
Tribute to

Beatrice Warde

Inspired by Beatrice Warde's The Crystal Goblet (1932). Warde argued that typography should be invisible — like a crystal goblet that reveals the wine inside. Good type doesn't draw attention to itself; it draws attention to the words. She was one of the first great type scholars and the only woman in a room full of men who didn't know what they were looking at.

Typography — Perpetua + Gill Sans (in spirit)Color — #2C3E50
Tags:
recommendation tools analog

Related Posts

Rekomendasi Note Taking App : Notion

Buat Presentasi Dengan Beautiful.ai

Rekomendasi Note Taking App : Notion

Buat Presentasi Dengan Beautiful.ai

Previous article next article
back to all articles
About Me

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Founder of Synetica. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, black hair. Chicken at party, lion at Pingpong.

Ganis Atmawarin signature
Navigations
Writing Reading About Running Newsletter Favourite
Contacts
I'm based in Yogyakarta
ganis@atmawarin.com
Send Message
subscribe To my weekly newsletter
No spam. Unsubscribe anytime.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Typography: The majestic Abril Fatface by Veronika Burian and José Scaglione & the effortlessly versatile Karla by Jonathan Pinhorn
All contents created by me, unless otherwise noted. You are allowed to copy, distribute, or display your derivative copy of my works without my permission