Ganis Angger Atmawarin

No. 03 After Kenya Hara, 2003

Muji Notebook + Uni-ball Signo UM-151

Satu buku Muji, satu bolpen dua puluh ribuan, dan alasan saya masih menulis tangan di tahun 2017.

Saya jarang menulis tentang barang yang saya punya. Untuk yang satu ini saya bikin pengecualian. Muji Dotted Notebook + Uniball Signo UM-151 adalah surga.

Duo buku dan bolpen ini bisa melakukan apa saja. Mencatat, brainstorming, menusuk mata orang, mengaduk kopi, sketching. Semuanya mulus, mengalir cair. Dua yang di tengah tidak saya sarankan.

PS: Yes, I know the pen looks corny.

Tapi saya ingin bicara lebih dari sekadar review. Saya ingin cerita kenapa, di tahun 2017, ketika seluruh hidup kita sudah muat di layar 6 inci, saya masih menulis dengan tangan. Di atas kertas. Dengan bolpen dua puluh ribu rupiah, seperti murid SD yang sedang ujian.

Tentang benda fisik

Ujung Uni-ball Signo di atas kertas Muji bunyinya pelan. Tidak scratchy seperti ballpoint murah, tidak juga terlalu licin seperti gel pen mahal yang tintanya bleed ke mana-mana. Resistensinya pas, seolah bolpen itu tahu seberapa keras kamu menekan dan memilih untuk tidak berkomentar.

Kertas dotted Muji teksturnya susah dijelaskan tanpa disentuh. Tidak terlalu halus, tidak terlalu kasar. Dot-nya abu-abu muda, nyaris tidak kelihatan kecuali kamu mencarinya. Cukup untuk jadi pemandu, tidak cukup untuk mengganggu. Desainnya seperti menghilang, dan menurut saya itu desain yang paling baik.

Craig Mod, penulis dan walker yang menghabiskan hidupnya berjalan kaki melintasi Jepang, pernah menulis panjang tentang hubungan kita dengan benda fisik. Tentang buku bagus yang beratnya pas di tangan. Tentang bentuk fisik sebuah objek yang mengubah cara kita memakainya.

Mod benar. Notebook Muji di tangan saya beratnya pas. Tidak terlalu ringan sampai terasa murahan, tidak terlalu berat sampai malas dibawa. Cover-nya polos: cokelat sederhana, logo kecil, tanpa gaya-gayaan. Kalau dibuka, halamannya rebah dengan tenang, tidak melawan. Saya sendiri jarang setenang itu di pagi hari.

Saya tidak sedang memuja benda. Yang saya cari friction yang benar.

Friction yang disengaja

Di dunia digital, kita terobsesi menghapus friction. Satu klik untuk beli. Satu swipe untuk setuju. Satu tap untuk pesan makanan. Untuk banyak hal, itu memang bagus.

Untuk berpikir, menurut saya justru sebaliknya.

Kalau saya menulis di laptop, pikiran saya lari lebih cepat dari jari. Saya menulis, menghapus, menulis lagi, copy-paste, rearrange, undo, redo. Cepat, tapi dangkal.

Kalau saya menulis dengan tangan, semuanya melambat. Saya memilih kata hati-hati karena mencoret di kertas itu berantakan. Saya memikirkan struktur dulu karena tidak ada cut-and-paste. Tangan saya pegal setelah beberapa paragraf, jadi saya berhenti sebentar, dan di jeda itu sering muncul ide yang tidak akan muncul kalau saya terus mengetik.

Pegal, ternyata, ada gunanya.

Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer di Princeton, dalam paper terkenal The Pen Is Mightier Than the Keyboard, menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan memahami materi lebih baik daripada yang mengetik. Padahal catatan tulisan tangan mereka kurang lengkap. Menulis dengan tangan memaksa otak memproses, meringkas, dan memilih. Mengetik cukup menyalin.

Laptop saya mesin fotokopi yang sangat rajin. Tangan saya tidak.

Wabi-sabi dan alat yang tidak sempurna

Orang Jepang punya konsep wabi-sabi, keindahan dalam hal yang tidak sempurna, tidak lengkap, dan sementara. Mangkuk teh retak yang diperbaiki dengan emas (kintsugi). Kayu yang lapuk. Keramik yang tidak simetris.

Setelah beberapa bulan, notebook Muji saya punya wabi-sabi-nya sendiri. Sudutnya sedikit melengkung. Cover-nya ada noda kopi, kecelakaan kecil di sebuah warung di Prawirotaman. Beberapa halaman lebih tebal karena tinta meresap dari sisi sebaliknya. Tulisan tangan saya di halaman pertama lebih rapi daripada di halaman terakhir. Dari antusias jadi nyaman, atau dari rajin jadi malas, tergantung siapa yang menilai.

Semua itu cacat, dan cacat-cacat itu yang membuat notebook ini milik saya. Evernote note saya kelihatan sama dengan Evernote note siapa pun. Notebook ini punya noda kopi, garis-garis saya yang miring, dan halaman yang dilipat sebagai bookmark karena saya terlalu malas mencari pembatas buku.

Menurut saya Muji paham satu hal: produk yang bagus makin baik setelah dipakai. Lama-lama ia bercerita tentang pemakainya, bukan tentang pembuatnya.

Uni-ball Signo UM-151

Sekarang bolpennya. Uni-ball Signo UM-151 bukan bolpen cantik. Desainnya generik. Plastik transparan, klip standar, tidak ada yang istimewa. Di rak toko, kamu mungkin lewat begitu saja.

Tulis satu kalimat dengannya, baru kamu mengerti.

Tinta gel-nya mengalir dengan konsistensi yang nyaris spiritual. Tidak ada blob di awal garis. Tidak ada fade di ujungnya. Line width-nya 0.38mm untuk versi yang saya pakai, tipis tapi tegas. Cukup detail untuk sketsa kecil, cukup tebal untuk catatan yang perlu dibaca ulang nanti.

Harganya dua puluh ribuan. Kadang lebih murah kalau beli grosir. Ini bolpen rakyat. Tidak eksklusif, tidak sok, tapi performanya mengalahkan banyak bolpen yang harganya sepuluh kali lipat. Dompet saya senang, tangan saya juga.

Bolpen terbaik ternyata tidak harus yang paling mahal. Cukup yang cocok dengan tangan, kertas, dan cara berpikir pemakainya.

Orang Jepang punya istilah lain: monozukuri, semangat membuat barang dengan perhatian dan kebanggaan. Uni-ball Signo UM-151 itu produk monozukuri. Orang yang mendesainnya kelihatan lebih peduli pada rasanya di tangan saat menulis halaman kelima puluh daripada tampilannya di etalase.

Kenapa analog masih penting

Saya bukan luddite. Hari-hari saya habis di depan layar. Coding, managing, emailing. Laptop dan HP adalah alat kerja utama saya. Saya tidak sedang mengajak siapa pun kembali ke zaman batu, yang omong-omong juga tidak punya Muji.

Menurut saya analog dan digital punya tugas masing-masing, dan mencampuradukkannya itu keliru. Digital untuk menyimpan dan membagikan. Analog untuk berpikir.

Setiap pagi, sebelum membuka laptop, saya menulis di notebook Muji lima sampai sepuluh menit. Bukan journaling yang serius. Kadang cuma daftar belanja, kadang sketsa wireframe yang jelek, kadang curhat tentang bug yang kemarin tidak berhasil saya fix. Tidak ada format, tidak ada template, tidak ada tuntutan untuk produktif.

Ritual kecil itu, duduk, membuka notebook, melepas tutup Uni-ball Signo, lalu menulis, membuat saya grounded. Jauh sebelum semua teknologi ini ada, manusia sudah berpikir dengan pena dan kertas, dan pikiran mereka tidak kalah hebat. Kadang malah lebih jernih.

Austin Kleon, penulis Steal Like an Artist, punya dua meja kerja: satu analog (kertas, bolpen, gunting, lem) dan satu digital (laptop). Semua idenya dimulai di meja analog, dan baru pindah ke meja digital setelah punya bentuk. Saya tidak sedisiplin Kleon. Tapi prinsipnya masuk akal buat saya. Ada tahap berpikir yang lebih cocok dikerjakan tangan.

Notebook ketiga

Notebook Muji saya sekarang sudah yang ketiga. Dua yang sebelumnya ada di rak buku, penuh ide setengah jadi, gambar yang buruk, dan catatan yang kadang saya baca ulang lalu saya tertawakan sendiri. Uni-ball Signo saya sudah tidak terhitung. Setiap kali habis, saya beli lagi tanpa berpikir, seperti membeli beras.

Duo ini tidak mengubah hidup saya. Mereka cuma menemani.

Kalau kamu belum pernah menulis dengan tangan di atas kertas yang bagus dengan bolpen yang tepat, cobalah sekali. Tidak usah demi produktivitas atau aesthetic. Cukup untuk merasakan ujung pena di kertas, tinta yang pelan-pelan jadi huruf, dan pikiran yang melambat jadi kata.

Kalau tintanya habis, beli lagi. Dua puluh ribu.

— Ganis

If that was any good

I send a letter when there’s a new essay. That’s the whole deal.