Ganis Atmawarin
About Writing Reading Running Newsletter
Pakuningratan No.15

Pakuningratan No.15

Di usia 2 tahun, saya sudah pindah kota. Dengan menggunakan kapal Pelni Rinjani yang juga berumur sama, bapak membawa saya 5 hari 4 malam ke barat untuk tinggal dengan kakek nenek di Malang. Sejak itu, dilecut oleh kebutuhan dan janji, pindah dari satu nama kota ke kota lain adalah konstanta. Hidup saya hingga umur 18 tidak terikat kepada lokalitas manapun, tidak peduli terhadap rumah.

Kalau kamu pindah cukup sering sebagai anak kecil, kamu belajar satu hal lebih cepat dari kebanyakan orang: jangan terlalu attached. Ke tempat. Ke rutinitas. Ke teman. Karena semuanya temporary. Kapal berikutnya selalu menunggu. Kota berikutnya selalu memiliki sekolah baru di mana kamu harus memperkenalkan diri lagi — nama, asal, hobi — seolah identitasmu bisa diringkas dalam tiga bullet points.

Papua. Malang. Surabaya. Jakarta. Setiap kota meninggalkan sedikit jejak tapi tidak ada yang cukup dalam untuk disebut akar. Saya bisa menggambarkan layout rumah nenek di Malang tapi tidak bisa mengingat nama jalannya. Saya ingat bau halaman sekolah di Papua — tanah basah dan daun yang membusuk — tapi tidak bisa menunjukkan lokasinya di peta. Fragmen-fragmen tanpa frame.

Itu yang saya pikir akan terus terjadi. Hidup tanpa sense of place. Berpindah, selalu berpindah, mengumpulkan alamat-alamat yang tidak pernah jadi rumah.


Namun, sejak saya pindah ke Yogyakarta, hal itu berubah. Salah satu lokasi yang saya suka adalah Pakuningratan no.15.

Bangunannya kolonial. Dinding tebal — setengah meter mungkin — yang membuat interior tetap dingin bahkan di tengah hari terpanas. Langit-langit tinggi dengan balok kayu yang exposed, gelap karena usia, tapi kokoh. Lantai teraso yang sudah tidak rata di beberapa tempat, hasil dari puluhan tahun fondasi bergeser milimeter demi milimeter. Jendelanya besar — jenis jendela yang dirancang orang Belanda untuk ventilasi tropis, dengan daun pintu kayu yang bisa dibuka penuh sehingga angin bisa lewat tanpa halangan.

Bangunan seperti ini punya gravitasi sendiri. Kamu masuk dan langsung merasa bahwa dinding-dinding ini sudah menyaksikan banyak hal sebelum kamu datang, dan akan menyaksikan banyak hal lagi setelah kamu pergi. Ada kerendahan hati yang dipaksakan oleh arsitektur tua — kamu bukan karakter utama di sini. Kamu pengunjung. Tamu dalam timeline yang jauh lebih panjang dari hidupmu.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke bangunan itu di awal musim hujan 2013, saya sudah mulai menyukainya. Sebelum erupsi merapi. Sebelum 100 orang ada di dalamnya. Sebelum saya bertemu Gita. Saya sudah menyukai tempat ini. Kolonial dan hangat. Jl Pakuningratan No.15 adalah rumah dan saya peduli.

Waktu itu SoftwareSeni masih kecil. Mungkin belasan orang. Meja-meja diatur seadanya di ruangan-ruangan yang dulunya mungkin kamar tidur atau ruang tamu seorang pejabat kolonial. Kabel LAN melintasi lantai teraso, ditutup lakban hitam yang selalu terkelupas. Satu AC window untuk ruangan yang seharusnya butuh tiga. Kipas angin di setiap meja.

Tapi ada sesuatu di tempat itu yang tidak bisa direplikasi oleh coworking space manapun dengan bean bag dan meja ping pong mereka. Sebuah intimacy. Ketika kamu bekerja di ruangan kecil dengan orang-orang yang kamu kenal baik, setiap suara menjadi familiar. Ketukan keyboard Adi yang selalu lebih keras dari yang seharusnya. Gumaman Dion ketika dia debugging. Suara langkah seseorang ke dapur yang kamu bisa identifikasi tanpa melihat. Suara-suara kecil yang, diakumulasi, membentuk soundscape yang berarti kamu sedang di tempat yang benar.


Angkringan di depan kantor. Ini harus dibicarakan terpisah karena angkringan itu sendiri adalah sebuah institusi.

Gerobak kayu dengan atap terpal. Nasi kucing — bungkusan kecil nasi dengan lauk secukupnya, bukan karena pelit tapi karena porsi itu dirancang untuk dinikmati sambil ngobrol, bukan untuk kenyang. Teh manis panas dalam gelas yang kamu tahu tidak pernah benar-benar bersih tapi kamu minum juga karena ini bukan tentang higienitas — ini tentang ritual.

Angkringan itu tempat kami think. Bukan brainstorming session dengan post-it notes dan facilitator. Bukan sprint retrospective. Hanya duduk, minum, dan bicara. Kadang tentang kerjaan. Kadang tentang hidup. Kadang tentang tidak ada apa-apa. Dan dari percakapan-percakapan yang tidak bertujuan itu, entah bagaimana, keputusan-keputusan penting terbentuk.

Keputusan untuk ambil project besar pertama kami. Keputusan untuk hire developer ke-20. Keputusan tentang kultur perusahaan yang kami mau. Semua bermula dari obrolan santai di atas kursi plastik, dengan background suara motor lewat dan aroma sate usus yang agresif.

Di situ saya bekerja dan saya melewatkan sebagian besar hidup saya. Suatu ketika di angkringan depan kantor, Dion duduk sembari minum kopi instan yang selalu saya cibir. “Akan di sini sampai kapan?” tanyanya. “Sampai lama,” jawab saya.

Saya ingat nada suara saya ketika menjawab itu. Tanpa ragu. Tanpa kalkulasi. Seperti refleks. Karena pada saat itu, saya memang tidak bisa membayangkan tempat lain. Pakuningratan 15 bukan hanya kantor — dia sudah jadi perpanjangan dari identitas saya. Alamat email berakhiran @softwareseni.co.id, tapi rumah beralamat di Pakuningratan 15.


Ada memori-memori kecil yang menolak untuk pergi.

Hujan sore yang masuk lewat jendela yang lupa ditutup dan membasahi tumpukan kertas di meja tamu. Semut yang baris rapi di dinding menuju sumber gula yang entah siapa yang tumpahkan dan tidak ada yang mengaku. Kucing yang entah milik siapa yang datang setiap siang, tidur di kursi kosong, dan pergi menjelang maghrib. Kami memberinya nama tapi saya sudah lupa namanya — yang saya ingat adalah beratnya ketika kamu pindahkan dia dari kursi kamu, hangat dan malas dan sedikit keberatan.

Malam-malam lembur ketika kantor sepi dan Jakarta menelepon untuk status update yang seharusnya bisa jadi email. Lampu neon yang berkedip satu kali sebelum menyala penuh — setiap kali, setiap malam, satu kedipan. Konsisten. Suara jangkrik dari halaman belakang yang mulai terdengar setelah jam 9, ketika kota mulai mengecilkan volumenya.

Ini detail-detail yang tidak masuk ke annual report atau company milestone. Tapi mereka adalah substansi dari pengalaman. Mereka adalah yang membuat tempat menjadi tempat, bukan hanya lokasi di Google Maps.


Awal minggu kemarin, setelah 6 tahun, kami perpindah tempat.

Dalam hitungan 2 hari, kami berhasil memindahkan semua operasi ke tempat baru, Jl Magelang 65. Saya masih menempati kursi yang sama, meja yang sama, namun satu hal yang membuat saya takjub, cuma butuh satu hari untuk membuat saya merasa bahwa tempat ini seperti rumah.

Satu hari. Enam tahun di Pakuningratan, dan penggantinya hanya butuh satu hari untuk terasa like home. Ini seharusnya membuat saya sedih — bukankah ini berarti Pakuningratan tidak se-spesial yang saya kira? Bahwa attachment saya ke tempat itu lebih rapuh dari yang saya bayangkan?

Tidak. Justru sebaliknya. Cepatnya transisi itu mengkonfirmasi sesuatu yang seharusnya sudah saya sadari dari dulu: bukan bangunannya.

Dinding tebal Pakuningratan, lantai terasonya, jendela kolonialnya — semua itu indah. Saya rindu mereka. Tapi mereka bukan alasan saya bangun setiap pagi dan senang berangkat kerja. Alasannya duduk di meja sebelah saya. Alasannya berdebat tentang arsitektur software di meeting room. Alasannya memesan nasi goreng untuk semua orang tanpa bertanya mau pedas atau tidak (semua orang mau pedas). Alasannya duduk di angkringan depan kantor baru — karena ternyata di Jl Magelang juga ada angkringan — dan melanjutkan percakapan yang dimulai di Pakuningratan.


Saya selalu berpikir rumah adalah tempat, lokasi, dan tanah. Tapi ternyata bukan.

Anak kecil yang naik kapal Pelni dari satu pulau ke pulau lain, yang tidak pernah punya alamat lebih dari beberapa tahun, yang belajar untuk tidak terlalu attached — anak itu salah tentang satu hal. Dia pikir ketidak-terikatannya kepada tempat berarti dia tidak butuh rumah. Ternyata, dia hanya belum menemukan rumah dalam bentuk yang tepat.

Rumah bukan koordinat. Rumah bukan arsitektur. Rumah adalah sekumpulan orang yang membuatmu merasa bahwa kamu ada di tempat yang benar, melakukan hal yang benar, di waktu yang benar.

Saya mungkin akan ada di jalan yang berbeda 5 tahun lagi, tapi selama saya dikelilingi orang-orang ini, jam 8 hingga 5 akan selalu terasa seperti rumah untuk saya.

Dan Dion, kalau kamu baca ini: kopi instanmu masih jelek. Tapi terima kasih sudah bertanya. Dan terima kasih sudah duduk di sana ketika saya menjawab.

Sampai lama.

Juli 29, 2019
Tribute to

Beatrice Warde

Inspired by Beatrice Warde's The Crystal Goblet (1932). Warde argued that typography should be invisible — like a crystal goblet that reveals the wine inside. Good type doesn't draw attention to itself; it draws attention to the words. She was one of the first great type scholars and the only woman in a room full of men who didn't know what they were looking at.

Typography — Perpetua + Gill Sans (in spirit)Color — #2C3E50
Tag:
work story

Related Posts

Memberikan Feedback - Tips Untuk Team Lead

Dwight Schrute Line di SoftwareSeni

Previous article next article
back to all articles
About Me

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Founder of Synetica. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, black hair. Chicken at party, lion at Pingpong.

Ganis Atmawarin signature
Navigations
Writing Reading About Running Newsletter Favourite
Contacts
I'm based in Yogyakarta
ganis@atmawarin.com
Send Message
subscribe To my weekly newsletter
No spam. Unsubscribe anytime.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Typography: The majestic Abril Fatface by Veronika Burian and José Scaglione & the effortlessly versatile Karla by Jonathan Pinhorn
All contents created by me, unless otherwise noted. You are allowed to copy, distribute, or display your derivative copy of my works without my permission