
Principle
Lakukan
- Perkecil dunia.
- Eksekusi yang gesit.
- Tiap pekerjaan butuh deadline.
- Percaya dengan yang rutin. Percaya dengan yang eksponensial.
- Asumsi kalau semua ingin yang positif.
- Peluk yang sulit, peluk yang membosankan.
- Matikan AC. Matikan Lampu. Buang sampah.
Hindari
- Jangan biarkan power bikin corrupt.
- Jangan judge. Gak semua sukses dari kerja keras. Gak semua kegagalan karena malas.
Daftar di atas terlihat sederhana. Pendek. Mungkin terlihat seperti sesuatu yang ditulis dalam lima menit. Dan memang, menulisnya memang cepat. Tapi setiap butir di atas datang dari tempat yang spesifik — dari momen tertentu, kegagalan tertentu, percakapan tertentu yang mengubah cara saya melihat sesuatu.
Prinsip tanpa cerita adalah poster motivasi. Jadi biar saya ceritakan.
Lakukan
1. Perkecil dunia.
Saya sudah menulis tentang ini secara terpisah, tapi intinya layak diulang: mengatakan ya itu mudah. Mengatakan tidak itu seni.
Ada periode di hidup saya — sekitar 2014-2015 — ketika saya bilang ya untuk hampir semuanya. Ya untuk freelance project. Ya untuk side business. Ya untuk ajakan startup. Ya untuk meetup. Ya untuk semua orang. Dan hasilnya? Saya ada di mana-mana, tapi tidak benar-benar ada di mana pun. Energi saya tersebar tipis seperti mentega di roti yang terlalu besar.
David Packard bilang lebih banyak organisasi mati karena tidak bisa menelan daripada karena kelaparan. Saya pernah tersedak.
Sekarang, “perkecil dunia” adalah filter pertama saya untuk setiap keputusan. Apakah ini memperkecil atau memperbesar dunia saya? Kalau memperbesar tanpa alasan yang sangat kuat — tidak, terima kasih.
2. Eksekusi yang gesit.
Ada dua tipe orang di dunia (simplifikasi yang berlebihan, tapi berguna): orang yang merencanakan dengan sempurna lalu tidak pernah mulai, dan orang yang langsung mulai meskipun rencananya berantakan.
Saya menghabiskan sebagian besar usia dua puluhan saya di kubu pertama. Merencanakan. Membuat spreadsheet. Membaca buku tentang cara memulai sebelum benar-benar memulai. Analysis paralysis dalam bentuknya yang paling patologis.
SoftwareSeni mengajarkan saya sebaliknya. Di software development, kamu bisa merencanakan berbulan-bulan, tapi realita selalu berbeda begitu kamu mulai ngoding. User tidak berperilaku seperti yang kamu asumsikan. API pihak ketiga berubah. Requirement berevolusi.
Gesit bukan berarti ceroboh. Gesit berarti mulai dengan apa yang kamu tahu, lalu menyesuaikan sambil jalan. Seperti jazz — ada struktur, tapi ada ruang untuk improvisasi.
3. Tiap pekerjaan butuh deadline.
Parkinson’s Law: pekerjaan akan mengembang untuk mengisi waktu yang tersedia. Tanpa deadline, sebuah tugas yang seharusnya selesai dalam dua jam bisa menjadi proyek seminggu. Saya sudah membuktikan ini berkali-kali dengan diri saya sendiri.
Deadline bukan soal tekanan. Deadline soal clarity. Ketika kamu tahu kapan sesuatu harus selesai, kamu dipaksa membuat keputusan tentang apa yang penting dan apa yang tidak. Kamu dipaksa memotong scope. Kamu dipaksa mengirimkan sesuatu yang “cukup baik” alih-alih mengejar “sempurna” yang tidak pernah datang.
Di SoftwareSeni, setiap sprint punya deadline. Setiap meeting punya waktu. Setiap email punya expected response time. Bukan karena kami robot. Karena tanpa batas waktu, kami menjadi manusia yang membuang waktu.
4. Percaya dengan yang rutin. Percaya dengan yang eksponensial.
Ini dua hal yang terdengar kontradiktif tapi sebenarnya saling melengkapi.
Yang rutin: menulis setiap hari, lari setiap pagi, membaca sebelum tidur, code review setiap Senin. Rutin itu membosankan. Rutin itu tidak seksi. Tapi rutin adalah fondasi dari semua hal yang bernilai.
Yang eksponensial: efek kumulatif dari rutinitas yang konsisten. Menulis setiap hari selama setahun menghasilkan lebih banyak output daripada dua minggu “marathon menulis” yang diikuti enam bulan kekosongan. Lari setiap pagi selama setahun membentuk tubuh yang tidak bisa kamu bangun dalam satu bulan brutal.
James Clear menulis tentang ini dalam Atomic Habits: perbaikan 1% per hari, secara kompounding, menghasilkan sesuatu yang 37 kali lebih baik setelah setahun. Matematikanya benar. Tapi yang sulit bukan matematikanya. Yang sulit adalah percaya pada prosesnya ketika hasilnya belum terlihat.
Percaya. Tetap rutin. Eksponensial akan datang — biasanya di saat kamu sudah lupa menghitung.
5. Asumsi kalau semua ingin yang positif.
Ini prinsip yang paling sering diuji.
Seseorang mengirim email yang terdengar kasar? Asumsikan mereka sedang bad day, bukan orang jahat. Klien meminta perubahan mendadak? Asumsikan ada tekanan dari atas yang kamu tidak tahu, bukan karena mereka tidak menghargai kerja timmu. Tim member miss deadline? Asumsikan ada hambatan yang belum dikomunikasikan, bukan karena malas.
Hanlon’s Razor versi yang lebih lembut: never attribute to malice that which can be adequately explained by… being human.
Ini tidak berarti naif. Ini berarti memberikan benefit of the doubt sebagai starting point. Kamu selalu bisa adjust berdasarkan bukti. Tapi memulai dari asumsi positif membuat interaksimu lebih sehat, keputusanmu lebih adil, dan — ini yang paling penting — hidupmu lebih ringan.
Saya belajar ini setelah bertahun-tahun menjadi manajer. Orang yang kamu perlakukan dengan curiga akan menjadi orang yang layak dicurigai. Orang yang kamu perlakukan dengan trust akan mengejutkanmu dengan trust mereka balik.
6. Peluk yang sulit, peluk yang membosankan.
Sebagian besar pekerjaan yang bernilai itu tidak menyenangkan saat dilakukan. Menulis itu sulit. Debugging itu menyebalkan. Difficult conversation dengan tim itu draining. Belajar skill baru itu frustrating.
Tapi inilah rahasianya: hal-hal yang menyelesaikan masalah sesungguhnya hampir selalu sulit atau membosankan. Yang menyenangkan — meeting yang banyak tapi tanpa outcome, brainstorm tanpa follow-up, scroll Twitter sambil merasa “research” — itu biasanya noise.
Mark Manson menulis bahwa pertanyaan yang tepat bukan “apa yang kamu inginkan?” tapi “penderitaan apa yang kamu bersedia tanggung?” Semua orang ingin tubuh yang fit. Tidak semua orang bersedia bangun jam 5 pagi untuk lari di udara dingin.
Peluk yang sulit. Peluk yang membosankan. Di sanalah pertumbuhan yang sebenarnya terjadi.
7. Matikan AC. Matikan Lampu. Buang sampah.
Ini terdengar sepele. Terlalu sepele untuk dijadikan prinsip. Tapi dengarkan sebentar.
Ini bukan cuma tentang hemat listrik atau kebersihan (meskipun keduanya penting). Ini tentang ownership. Tentang menganggap ruang di sekitarmu sebagai tanggung jawabmu, bukan orang lain.
Di kantor, saya sering melihat orang meninggalkan AC menyala di ruangan kosong. Lampu menyala di toilet yang tidak terpakai. Sampah di meja yang “nanti aja.” Ini kecil. Tapi kecilnya ini membentuk kebiasaan besar: kebiasaan menunggu orang lain untuk melakukan hal yang bisa kamu lakukan sendiri.
Broken windows theory, tapi untuk kantor. Lingkungan yang rapi menghasilkan perilaku yang rapi. Lingkungan yang berantakan menghasilkan… lebih banyak berantakan.
Dan ada sesuatu yang satisfying tentang mematikan lampu ruangan kosong. Sebuah act of care yang kecil tapi nyata. Bukti bahwa kamu peduli terhadap ruang yang kamu tempati, meskipun tidak ada yang melihat.
Hindari
1. Jangan biarkan power bikin corrupt.
Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
Saya melihat ini terjadi berkali-kali, termasuk pada diri saya sendiri. Ketika SoftwareSeni mulai tumbuh dan tim saya makin besar, ada momen-momen di mana saya menyadari bahwa saya membuat keputusan bukan karena itu keputusan terbaik, tapi karena saya bisa. Karena tidak ada yang menantang. Karena saya “yang paling tahu.”
Power yang tidak ditantang menghasilkan keputusan yang malas.
Solusi saya — yang masih terus saya asah — adalah memastikan ada orang di sekitar saya yang berani bilang “kamu salah.” Bukan yes-man. Bukan orang yang setuju karena kamu atasannya. Tapi orang yang genuinely peduli cukup untuk jujur.
Dan ketika seseorang bilang saya salah, reaksi pertama saya bukan defensif (oke, kadang defensif — saya masih manusia). Tapi saya mencoba mengambil jeda sebelum merespons. Karena di jeda itu, seringkali saya menyadari bahwa mereka benar.
2. Jangan judge.
Ini prinsip paling sulit. Karena menilai itu mudah. Melihat orang sukses dan mengasumsikan mereka pasti kerja keras. Melihat orang gagal dan mengasumsikan mereka pasti malas.
Kenyataannya jauh lebih rumit. Ada orang yang kerja keras luar biasa tapi gagal karena circumstance yang di luar kontrol mereka. Ada orang yang sukses besar tapi — jujur saja — banyak faktor keberuntungan yang bermain. Right place, right time, right connections.
Nassim Taleb menyebutnya survivorship bias. Kita hanya melihat yang berhasil dan membuat narasi dari kesuksesan mereka. Kita jarang melihat yang gagal meskipun melakukan hal yang persis sama.
Ini penting bukan cuma sebagai filosofi abstrak, tapi secara praktikal: bagaimana kamu memperlakukan orang di sekitarmu bergantung pada bagaimana kamu menilai mereka. Kalau kamu judge seseorang yang gagal sebagai “malas,” kamu tidak akan membantu mereka. Kalau kamu memahami bahwa kegagalan punya seribu wajah, kamu akan lebih compassionate — dan compassion, surprisingly, adalah salah satu tool paling efektif dalam manajemen.
Catatan Penutup
Prinsip-prinsip ini bukan tablet batu. Saya menulisnya sebagai panduan untuk diri saya sendiri, dan saya sendiri sering melanggarnya. Kadang saya bilang ya padahal seharusnya tidak. Kadang saya malas dan meninggalkan AC menyala. Kadang saya judge orang sebelum memahami konteksnya.
Yang penting bukan kesempurnaan. Yang penting adalah awareness — menyadari ketika kamu menyimpang, dan punya niat untuk kembali.
Tulis prinsipmu. Langgar. Tulis lagi. Langgar lagi. Tapi terus tulis. Karena proses menulis prinsip — memaksa dirimu memverbalisasi apa yang kamu percaya — itu sendiri sudah bernilai.
Consistent, tapi jangan takut mengganti. Karena prinsip yang bagus, seperti software yang bagus, selalu butuh update.
Photo by Markus Spiske on Unsplash
