
Rekomendasi Note Taking App : Notion
Salah satu tool yang sering nongol di desktop saya akhir-akhir ini adalah Notion. Notion didesain untuk membantu kamu menyimpan informasi dan mengorganise informasi, membuat rencana, serta berkolaborasi dengan tim di kantor atau teman.
Notion mirip sekali dengan Evernote, tapi dengan empat kelebihan yang paripurna untuk saya:
- Markdown dan keyboard shortcut yang sangat intuitive dan mudah untuk digunakan.
- UX yang sangat sedap di mata.
- Powerful relational database – mirip dengan airtable.
- Lebih mudah untuk berkolaborasi.
Menulis dan membuat rencana sangat menyenangkan untuk dilakukan di aplikasi ini. Notion punya beberapa flaw, tapi saya dengan senang hati mentolerirnya karena di Ivan Zhou, notion punya founder yang super product oriented.
PS: Artikel ini ditulis di Notion.
Tapi mari kita mundur sebentar. Karena ini bukan cuma soal Notion. Ini soal sesuatu yang lebih fundamental: hubungan antara alat dan pikiran.
Evolusi Mencatat
Manusia sudah mencatat sejak goresan pertama di dinding gua Lascaux, tujuh belas ribu tahun yang lalu. Kebutuhan ini — kebutuhan untuk mengeluarkan pikiran dari kepala dan meletakkannya di suatu tempat yang lebih permanen — adalah salah satu yang paling mendasar dalam peradaban kita.
Dari dinding gua ke papirus. Dari papirus ke parchment. Dari parchment ke kertas. Dari kertas ke mesin ketik. Dari mesin ketik ke komputer. Dan dari komputer ke Notion.
Setiap lompatan teknologi ini bukan cuma perubahan medium. Ini perubahan cara berpikir. Marshall McLuhan benar ketika bilang the medium is the message. Ketika kamu menulis di kertas, kamu berpikir linear — dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Ketika kamu menulis di wiki, kamu berpikir dalam jaringan — setiap halaman terhubung ke halaman lain. Ketika kamu menulis di Notion, kamu berpikir dalam blok — setiap blok bisa dipindahkan, diubah jenisnya, di-nest, di-expand.
Ini bukan perbedaan sepele. Ini perbedaan fundamental dalam cara otakmu memproses informasi.
Masalah dengan Mencatat
Kebanyakan orang yang saya kenal — termasuk saya, sebelumnya — punya hubungan yang berantakan dengan catatan mereka. Kita mencatat di mana-mana: sticky notes di monitor, note di HP, Google Docs yang menumpuk, email ke diri sendiri yang isinya “Reminder: baca buku ini,” file teks yang terlupakan di desktop.
Hasilnya? Informasi tersebar. Ketika kamu butuh sesuatu, kamu tidak tahu di mana mencarinya. Catatan yang seharusnya membantu pikiran, justru menambah kecemasan.
David Allen, penulis Getting Things Done, menyebutnya “open loops” — komitmen dan informasi yang tersimpan di kepala tanpa sistem yang jelas untuk mengelolanya. Setiap open loop menghabiskan bandwidth kognitif. Seperti tab browser yang terbuka di background — kamu tidak melihatnya, tapi ia mengonsumsi RAM.
Notion, buat saya, adalah cara untuk menutup loop-loop itu.
Kenapa Notion Berbeda
Sebelum Notion, saya sudah mencoba banyak. Evernote — powerful tapi bloated, seperti mall yang terlalu besar untuk dikunjungi satu orang. Google Keep — terlalu sederhana, seperti sticky note yang digitalisasi tapi tidak lebih. Bear — indah tapi terlalu minimalis untuk organisasi yang serius. OneNote — saya tidak pernah mengerti OneNote, dan saya curiga OneNote juga tidak mengerti dirinya sendiri.
Notion berbeda bukan karena satu fitur tertentu, tapi karena filosofi dasarnya: everything is a block. Teks adalah blok. Gambar adalah blok. Database adalah blok. To-do list adalah blok. Dan setiap blok bisa dimanipulasi — dipindah, diubah, digabung.
Ini terdengar teknis, tapi implikasi praktisnya luar biasa. Kamu mulai menulis catatan meeting, lalu menyadari bahwa satu paragrafnya sebenarnya adalah task yang harus dikerjakan — ubah paragraf itu menjadi to-do. Ada data yang seharusnya disimpan terstruktur — ubah beberapa baris menjadi tabel. Tabel itu ternyata butuh relasi dengan tabel lain — buat linked database.
Pikiranmu mengalir. Tool mengikuti. Bukan sebaliknya.
Selama ini, kebanyakan tool memaksa kita berpikir dalam format yang sudah ditentukan. Word mengharuskan dokumen linear. Spreadsheet mengharuskan data terstruktur. To-do app mengharuskan semua hal menjadi checklist. Notion bilang: mulailah sesukamu, dan bentuknya akan menyesuaikan.
Building a Second Brain
Tiago Forte, dalam bukunya Building a Second Brain, mengusulkan ide yang sederhana tapi powerful: otak kita seharusnya digunakan untuk memproses ide, bukan menyimpan ide. Penyimpanan harus didelegasikan ke sistem eksternal — “second brain” yang bisa diandalkan.
Ini bukan ide baru. Niklas Luhmann, sosiolog Jerman, punya Zettelkasten — sistem kartu catatan yang ia kembangkan selama puluhan tahun dan menghasilkan lebih dari 70 buku dan ratusan paper. Luhmann bilang bahwa Zettelkasten-nya bukan sekadar penyimpanan — ia adalah partner berpikir.
Notion, untuk saya, menjadi versi digital dari Zettelkasten Luhmann. Bukan karena saya se-produktif Luhmann (jauh dari itu). Tapi karena Notion memberikan infrastruktur yang tepat untuk menangkap, mengorganisir, dan menghubungkan pikiran-pikiran yang tadinya terserak.
Forte mengusulkan framework PARA — Projects, Areas, Resources, Archives — untuk mengorganisir informasi. Di Notion, saya punya versi saya sendiri yang lebih sederhana: Inbox untuk tangkap semuanya dulu, Projects untuk yang sedang dikerjakan, Knowledge untuk referensi, dan Archive untuk yang sudah selesai.
Sederhana? Ya. Dan kesederhanaan itu disengaja. Karena sistem yang rumit akan kamu tinggalkan dalam dua minggu. Sistem yang sederhana — kalau kamu disiplin — bisa bertahan bertahun-tahun.
Tools for Thought
Ada gerakan yang disebut “tools for thought” — ide bahwa alat yang kita gunakan untuk berpikir dan mencatat seharusnya didesain dengan memahami cara otak manusia bekerja. Bukan sekadar memindahkan kertas ke layar.
Vannevar Bush menulis tentang ini di 1945 dalam esai legendaris As We May Think. Ia membayangkan sebuah alat bernama “memex” — mesin yang bisa menyimpan semua buku, catatan, dan komunikasi seseorang, dan menghubungkannya melalui “trails” asosiasi. Tujuh puluh tahun kemudian, Notion dan tool serupa seperti Roam Research, Obsidian, dan Logseq mulai mewujudkan visi itu.
Tapi tool, sehebat apapun, tetap hanya tool. Yang lebih penting dari tool adalah kebiasaan.
Kebiasaan mencatat. Kebiasaan me-review. Kebiasaan menghubungkan ide lama dengan ide baru. Kebiasaan menulis — bukan untuk dipublikasikan, tapi untuk berpikir.
Saya menulis di Notion hampir setiap hari. Bukan esai panjang — kadang cuma dua baris tentang ide yang lewat. Kadang link ke artikel yang menarik dengan satu kalimat konteks kenapa saya menyimpannya. Kadang daftar pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Tidak ada yang glamor tentang ini. Ini adalah kerja boring yang tidak menghasilkan dopamine hit. Tapi kumulatifnya — setelah berbulan-bulan, setelah ratusan catatan kecil — saya punya sesuatu yang bernilai: peta pikiran saya sendiri. Sebuah mirror yang memantulkan bagaimana cara saya berpikir, apa yang saya pedulikan, dan bagaimana ide-ide saya berevolusi.
Flaw yang Saya Tolerir
Notion tidak sempurna. Offline support-nya — setidaknya waktu saya menulis ini — menyedihkan. Loading time-nya kadang bikin frustrasi. Dan ada artificial complexity di beberapa area yang seharusnya simpel.
Tapi Ivan Zhou dan timnya — dan ini yang membuat saya tetap di Notion — punya taste yang langka di dunia productivity tools. Mereka membuat keputusan desain yang menunjukkan bahwa mereka mengerti, benar-benar mengerti, bagaimana orang bekerja. Template gallery mereka bukan gimmick — ini adalah onboarding yang brilliant. Cara mereka menangani nested pages terasa intuitif. Database view-nya — table, board, calendar, gallery, timeline — adalah Swiss army knife yang benar-benar berguna, bukan cuma flashy.
Product sense seperti ini langka. Dan di dunia di mana semua productivity app mulai terlihat dan terasa sama, product sense adalah pembeda sejati.
Bukan Soal App
Pada akhirnya, ini bukan tentang Notion vs Evernote vs Obsidian vs apapun. Ini tentang mengambil keputusan untuk memperlakukan pikiran-pikiranmu dengan serius. Untuk tidak membiarkan ide-ide mati di kepala tanpa pernah dituliskan. Untuk membangun kebiasaan menangkap, mengorganisir, dan me-review — apapun tool yang kamu pilih.
Notion kebetulan adalah tool yang cocok untuk saya pada saat ini. Untuk kamu, mungkin tool lain. Yang penting bukan tool-nya. Yang penting kamu mulai.
Ada quote dari Richard Feynman yang selalu saya ingat: “The first principle is that you must not fool yourself — and you are the easiest person to fool.” Kita sering berpikir bahwa kita akan ingat ide-ide penting. Bahwa kita tidak perlu menuliskannya. Bahwa otak kita cukup reliable.
Otak kita tidak reliable. Itulah kenapa kita butuh second brain. Dan itulah kenapa, di antara semua tool yang pernah saya coba, saya tetap kembali ke Notion — bukan karena ia sempurna, tapi karena ia membuat kebiasaan mencatat menjadi menyenangkan.
Dan kalau sesuatu menyenangkan, kamu akan melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai tanpa sadar, kamu punya peta dari pikiran-pikiranmu selama bertahun-tahun — sebuah artefak yang jauh lebih berharga dari tool apapun yang kamu gunakan untuk membuatnya.
Tulis sesuatu hari ini. Simpan di suatu tempat yang bisa kamu temukan besok. Itu sudah cukup sebagai langkah pertama.
PS: Artikel ini masih ditulis di Notion.
