Ganis Angger Atmawarin

No. 13 After Jan Tschichold, 1947

Super Power Bernama Buku

Lima tahun lagi kamu masih orang yang sama, kecuali karena orang yang kamu temui dan buku yang kamu baca. Saya baru paham bagian kedua lewat timbangan.

Ini mungkin kedengaran klise. Tapi menurut saya buku itu underrated di Indonesia. Coba tanya teman kerja di kiri dan kanan, siapa yang menghabiskan satu buku dalam sebulan terakhir. Saya berani taruhan, tidak banyak. Buku minta sesuatu yang tidak semua orang mau kasih, yaitu waktu.

The thing is, buku termasuk sedikit medium yang layak dibayar dengan waktu. Dia bisa menggeser kamu dari “tahu sesuatu” ke “paham sesuatu”. Saya belajar bedanya bukan dari rak buku, tapi dari timbangan.

Buku bisa menurunkan berat badan

Untuk menjelaskan superpower buku, mari bicara topik yang agak tabu: berat badan. Buku bisa menurunkan berat badan. Lho.

Sejak 2017 saya semangat menurunkan berat badan supaya bisa ikut marathon. Cita-cita lama itu sempat terkubur di bawah timbunan lemak yang menggila sampai 85 kg, waktu saya kerja di Jakarta. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, kecuali Kentucky Fried Chicken.

Kurva berat badan turun, sebelum flat di 70kg.
Kurva berat badan turun, sebelum flat di 70kg.

Lima kilo sempat hilang. Lalu berhenti. Setahun penuh timbangan saya betah di angka 71, padahal target saya 65 kg supaya bisa finish marathon di bawah 4,5 jam. Dua tahun berat badan saya naik turun. Biasanya turun di bulan puasa, lalu naik lagi bulan berikutnya, seperti tamu yang sudah pamit tapi balik lagi karena ketinggalan payung.

Sebulan lalu saya membaca The Obesity Code dari Jason Fung. Momentumnya balik, dan saya tidak punya penjelasan yang lebih ilmiah dari kata “magically”. Berat badan turun ke 68, dan sekarang on track untuk ada di 67 sebelum akhir tahun.

Book kick in. Berat badan turun lagi.
Book kick in. Berat badan turun lagi.

Dari tahu ke paham

Yang agak memalukan, semua saran Jason Fung itu sudah saya tahu. Mau turun berat badan, ya berhenti ngemil dan kurangi gula. Ini bukan rocket science. Semua orang tahu.

Saya tahu itu selama dua tahun. Selama dua tahun juga angka 71 tidak mau pergi.

Bedanya, buku itu membuat saya paham mekanik tubuh. Bagaimana makanan diolah. Kenapa tubuh mencari homeostasis dan melawan setiap usaha menurunkan berat. Apa peran insulin dan gula. Kenapa menghitung kalori itu menyesatkan. Kenapa ada orang yang makan banyak tapi tetap kurus, sementara yang lain makan sedikit tapi tetap gemuk.

Setelah paham, mengubah kebiasaan jadi lebih gampang. Hubungan saya dengan kudapan berubah, dan itu yang membuat berat badan turun dan tidak balik lagi.

Ini maksud saya dengan menggeser dari tahu ke paham. Tahu itu dangkal. Tahu bisa didapat dari judul artikel atau caption Instagram. Paham datang dari menghabiskan 6-8 jam bersama satu ide, berdebat dengannya di kepala, sampai ide itu mengubah cara kamu melihat sesuatu.

Buat saya, sejauh ini cuma buku yang bisa memberi itu.

Kenapa bukan artikel atau podcast?

Jangan salah paham, saya juga konsumsi artikel dan podcast. Medium, Substack, The Tim Ferriss Show, Lex Fridman. Semuanya bagus. Tapi bedanya besar.

Artikel dan podcast itu ngemil. Buku itu makan besar. Dan tahun ini saya belajar dengan susah payah bahwa hidup dari ngemil tidak membawa saya ke mana-mana.

Artikel memberi satu perspektif tentang satu topik dalam 5-10 menit. Podcast memberi obrolan yang menghibur tentang banyak topik dalam 1-2 jam. Buku memberi satu orang yang menghabiskan berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, mendalami satu topik, lalu menyusunnya dengan runut.

Naval Ravikant, yang buku kompilasinya (The Almanack of Naval Ravikant) juga sangat bagus, pernah bilang: “Read the best 100 books over and over again.” Seratus buku, berulang kali, bukan seribu buku sekali baca. Buku yang benar-benar bagus selalu memberi sesuatu yang baru setiap dibaca ulang. Bukunya tidak berubah. Kamu yang berubah di antara dua pembacaan.

Unfair competitive advantage

Charlie Jones pernah bilang:

“You will be the same person in five years as you are today except for the people you meet and the books you read.”

Di jaman mie instan, ketika kebanyakan orang lebih nyaman dengan bacaan ringan seperti feed Instagram, Twitter, atau artikel Medium, buku jadi unfair competitive advantage. Saya tidak sedang menunjuk orang lain. Medium tadi juga ada di daftar bacaan saya.

Bayangkan dua product manager dengan pengalaman kerja yang sama. Yang satu membaca 20 buku setahun tentang product management, psikologi, bisnis, dan desain. Yang satu mengandalkan blog post dan Twitter thread. Lima tahun kemudian, jarak pemahaman mereka jauh sekali.

Bukan karena yang satu lebih pintar. Yang satu menyisihkan waktu untuk paham. Yang lain merasa cukup dengan tahu. Soal berat badan, saya dua tahun jadi orang yang kedua.

Cara saya membaca

Saya bukan speed reader. Saya lambat. Satu buku non-fiksi bisa makan waktu 2-3 minggu, kadang lebih. Tidak apa-apa.

Beberapa kebiasaan yang membantu:

Baca beberapa buku sekaligus. Kedengarannya aneh, tapi jalan. Biasanya ada 2-3 buku aktif. Satu non-fiksi yang berat (bisnis, psikologi), satu yang lebih ringan (memoar, travel), kadang satu fiksi. Kalau otak sudah capek dengan satu topik, saya pindah buku. Jadi saya tidak pernah benar-benar berhenti membaca. Saya cuma pindah kursi.

Highlight dan catat. Tidak setiap kalimat, hanya yang benar-benar kena. Setiap beberapa hari saya baca ulang catatan itu. Tiago Forte menyebutnya “progressive summarization.” Dengan cara ini isi buku menempel lebih lama di kepala.

Baca ulang yang bagus. Kata Naval, buku bagus layak dibaca lebih dari sekali. Saya sudah membaca Good to Great tiga kali. Setiap kali ada insight yang dulu lewat begitu saja, dan saya jadi curiga dengan diri saya sendiri di pembacaan pertama.

Jangan ragu berhenti. Tidak semua buku layak diselesaikan. Kalau setelah 50-100 halaman kamu tidak dapat apa-apa, tutup saja. Hidup terlalu pendek untuk buku yang membosankan.

Superpower yang accessible

Tidak semua orang bisa dikelilingi orang hebat. Kebanyakan dari kita tidak bisa, setidaknya tidak setiap hari. Tapi kita masih bisa dikelilingi buku hebat.

It’s the cheapest way to grow. Satu buku bagus harganya 100-200 ribu, setara dua atau tiga kali makan di luar. Kalau makannya di KFC, mungkin lebih banyak lagi. Satu ide dari satu buku bisa mengubah cara kamu bekerja selama bertahun-tahun.

Buku juga sabar. Dia menunggu di rak sampai kamu siap. Tidak ada algoritma yang menghilangkannya dari feed. Tidak ada notifikasi yang memotongnya di tengah kalimat.

Angka di timbangan saya sekarang 68. Masih tiga kilo lagi ke 65. Bedanya, kali ini saya tidak cuma tahu caranya.

— Ganis

If that was any good

I send a letter when there’s a new essay. That’s the whole deal.