Ganis Atmawarin
About Writing Reading Running Newsletter
Teknologi Bukan Kompetitif Advantage untuk Perusahaan Software

Teknologi Bukan Kompetitif Advantage untuk Perusahaan Software

Don’t fall in love with your technology. Fall in love with your customer. – Ian Burges, Validere


Kalimat ini terdengar sederhana. Mungkin terlalu sederhana untuk orang yang setiap hari bekerja di dunia software, yang karier dan identitasnya dibangun di atas fondasi teknologi. Tapi justru karena sederhananya, ia mudah diabaikan. Dan pengabaian inilah yang membunuh banyak perusahaan software secara perlahan, tanpa mereka sadari.

Saya tahu, karena saya hampir menjadi salah satunya.

Jebakan Tech Stack

Ada periode di perjalanan SoftwareSeni ketika saya sangat bangga dengan tech stack kami. Kami pakai framework terbaru. Deploy pipeline kami rapi. Code review kami ketat. Kami bisa bicara panjang lebar tentang arsitektur microservices, tentang CI/CD, tentang test coverage.

Dan tidak seorang pun klien kami yang peduli.

Ini realisasi yang menyakitkan. Seperti chef yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengasah teknik pisau, lalu menyadari bahwa tamu restorannya tidak datang karena teknik pisaunya — mereka datang karena makanannya enak.

Klien kami tidak peduli apakah backend-nya pakai Node.js atau Laravel. Mereka tidak peduli apakah kami pakai Docker atau deploy langsung ke bare metal. Yang mereka peduli adalah: apakah software-nya jalan? Apakah project-nya selesai tepat waktu? Apakah tim ini enak diajak kerja?

Teknologi adalah how. Customer peduli tentang what dan why.

Commodity Trap

Inilah kebenaran yang tidak enak didengar: di tahun 2019, hampir semua teknologi adalah komoditas.

React? Semua orang bisa pakai React. Kubernetes? Ada ribuan engineer yang bisa setup Kubernetes. Machine learning? Ada framework open source yang bisa kamu download gratis dan jalankan dalam satu hari.

Kalau senjata kompetitifmu adalah teknologi, kamu sedang berdiri di atas pasir. Karena apapun yang kamu bisa bangun secara teknis, orang lain juga bisa. Mungkin lebih cepat. Mungkin lebih murah. Mungkin besok ada open source project yang membuat keunggulan teknologimu jadi tidak relevan.

Nicholas Carr menulis esai terkenal berjudul “IT Doesn’t Matter” di Harvard Business Review pada 2003. Waktu itu banyak yang marah. Tapi intinya tetap relevan belasan tahun kemudian: ketika sebuah teknologi menjadi widely available, ia berhenti menjadi sumber competitive advantage. Ia menjadi cost of doing business — seperti listrik atau telepon.

Teknologi yang kamu pakai bukan pembeda. Cara kamu memakainya untuk melayani customer — itu baru pembeda.

Yang Sebenarnya Menjadi Moat

Kalau bukan teknologi, lalu apa yang menjadi competitive advantage sebuah perusahaan software?

Saya belajar ini secara perlahan, dari pengalaman — bukan dari buku (meskipun buku membantu memvalidasi). Berikut yang saya temukan:

1. Pemahaman tentang customer yang dalam.

Bukan sekadar tahu apa yang customer minta. Tapi memahami konteks bisnis mereka, frustrasi mereka, ketakutan mereka, dan hal-hal yang mereka butuhkan tapi tidak bisa artikulasikan. Ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerendahan hati untuk benar-benar mendengarkan — bukan langsung loncat ke solusi teknis.

Di SoftwareSeni, project-project terbaik kami bukan yang paling canggih secara teknologi. Tapi yang paling dalam pemahamannya tentang problem domain si klien. Ketika kami benar-benar memahami bisnis klien, keputusan teknis menjadi jelas dengan sendirinya. Ketika kami tidak memahaminya, kami menutupi ketidaktahuan dengan over-engineering.

2. Kemampuan eksekusi yang konsisten.

Banyak perusahaan software bisa membuat demo yang impressive. Jauh lebih sedikit yang bisa deliver production-ready software tepat waktu, on budget, dengan kualitas yang konsisten. Ini bukan soal brilliance. Ini soal disiplin, proses, dan — yang paling sulit — manajemen ekspektasi.

3. Trust.

Ini yang paling intangible, dan paling sulit dibangun. Trust dibangun dari ratusan interaksi kecil: membalas email tepat waktu, jujur ketika ada masalah, tidak overpromise, mengakui kesalahan. Tidak ada shortcut untuk trust. Dan trust inilah yang membuat klien kembali — bukan karena tech stack-mu yang keren.

4. Culture.

Ini mungkin yang paling underrated. Culture menentukan bagaimana timmu bekerja ketika tidak ada yang mengawasi. Culture menentukan apakah developer-mu akan mengambil shortcut ketika deadline mepet, atau tetap menulis code yang bersih meskipun tidak ada yang melihat. Dan culture tidak bisa di-copy-paste.

Jeff Bezos dan Obsesi Customer

Jeff Bezos — apapun pendapatmu tentang orangnya — memahami ini dengan sangat baik. Dari hari pertama, Amazon bukan perusahaan teknologi yang kebetulan melayani customer. Amazon adalah perusahaan customer yang kebetulan menggunakan teknologi.

Perbedaannya halus tapi fundamental.

Kalau kamu perusahaan teknologi, meeting-mu tentang tech stack. Kalau kamu perusahaan customer, meeting-mu tentang problem customer. Kalau kamu perusahaan teknologi, kamu bangga ketika ship fitur baru. Kalau kamu perusahaan customer, kamu bangga ketika customer berhasil mencapai tujuannya menggunakan produkmu.

Bezos terkenal dengan “empty chair” di ruang meeting — kursi kosong yang mewakili customer. Theatrical? Mungkin. Tapi efektif? Pasti. Karena kursi kosong itu adalah pengingat konstan: kita ada bukan untuk diri kita sendiri. Kita ada untuk orang yang duduk di kursi itu.

Pengalaman Pribadi

Ada satu cerita yang terus saya ingat. Klien dari Australia — perusahaan menengah, bukan startup, bukan enterprise. Mereka datang ke kami setelah pindah dari vendor sebelumnya yang — secara objektif — punya tech stack yang lebih canggih dari kami.

Saya tanya kenapa pindah. Jawabannya: “Mereka brilliant secara teknis, tapi tidak pernah benar-benar mengerti bisnis kami.”

Bukan soal code. Bukan soal framework. Soal empati.

Vendor sebelumnya membangun software yang secara teknis sempurna tapi tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Mereka membuat Mercedes ketika kliennya butuh Toyota — sesuatu yang reliable, mudah dioperasikan, dan bisa diperbaiki oleh siapa saja.

Kami bukan yang paling pintar secara teknis. Tapi kami memahami bahwa klien ini butuh software yang bisa dipakai oleh staf mereka yang sebagian besar bukan tech-savvy. Dan pemahaman itu lebih berharga dari seribu line of code yang elegan.

Bukan Berarti Teknologi Tidak Penting

Saya tidak ingin disalahartikan. Teknologi penting. Sangat penting. Kamu tidak bisa membangun software house dengan engineer yang tidak kompeten dan berharap “customer obsession” menyelamatkan segalanya.

Tapi teknologi adalah necessary condition, bukan sufficient condition. Kamu butuh teknologi yang bagus sebagai fondasi. Tapi fondasi bukanlah bangunan. Yang membuat bangunan berharga adalah apa yang terjadi di atasnya — ruang yang nyaman, pencahayaan yang tepat, akustik yang enak. Hal-hal yang dialami penghuninya, bukan yang dilihat arsiteknya.

Perusahaan software terbaik yang saya kenal — dan saya sudah bertemu banyak — bukan yang paling canggih. Tapi yang paling obsesif tentang customer mereka. Yang setiap keputusan teknisnya dimulai dari pertanyaan: “Ini membantu customer kita bagaimana?”

Tes yang Jujur

Coba jawab pertanyaan ini dengan jujur: kalau besok ada teknologi baru yang membuat semua code yang sudah kamu tulis jadi obsolete, apakah customer-mu akan tetap memilih kamu?

Kalau jawabannya ya, kamu punya moat yang sesungguhnya.

Kalau jawabannya tidak — atau kamu ragu — maka competitive advantage-mu bukan di tempat yang kamu kira. Dan lebih baik tahu ini sekarang daripada nanti, ketika sudah terlambat.

Ian Burges benar. Jatuh cinta dengan teknologimu itu manusiawi. Tapi jatuh cinta dengan customer-mu — itu strategi.

Dan dalam bisnis, seperti dalam hidup, cinta yang diarahkan ke tempat yang tepat akan selalu menghasilkan sesuatu yang lebih bertahan lama.

Photo by chuttersnap on Unsplash

Juli 30, 2019
Tribute to

Beatrice Warde

Inspired by Beatrice Warde's The Crystal Goblet (1932). Warde argued that typography should be invisible — like a crystal goblet that reveals the wine inside. Good type doesn't draw attention to itself; it draws attention to the words. She was one of the first great type scholars and the only woman in a room full of men who didn't know what they were looking at.

Typography — Perpetua + Gill Sans (in spirit)Color — #2C3E50
Tags:
note strategy softwareseni

Related Posts

Why I Keep Coming Back to Yogyakarta

Super Power Bernama Buku

Berbeda Sebagai Strategi

Principle

Berbeda Sebagai Strategi

Berbeda Sebagai Strategi

Dwight Schrute Line di SoftwareSeni

Previous article next article
back to all articles
About Me

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Founder of Synetica. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, black hair. Chicken at party, lion at Pingpong.

Ganis Atmawarin signature
Navigations
Writing Reading About Running Newsletter Favourite
Contacts
I'm based in Yogyakarta
ganis@atmawarin.com
Send Message
subscribe To my weekly newsletter
No spam. Unsubscribe anytime.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Typography: The majestic Abril Fatface by Veronika Burian and José Scaglione & the effortlessly versatile Karla by Jonathan Pinhorn
All contents created by me, unless otherwise noted. You are allowed to copy, distribute, or display your derivative copy of my works without my permission