Ganis Angger Atmawarin

No. 07 After Otl Aicher, 1972

Tidak Gagal Bangun Pagi

Saya kelelawar yang memutuskan jadi ayam. Dua tahun, tiga alarm, dan banyak highlight bola yang sebetulnya tidak perlu ditonton jam lima pagi.

“Keep your face always toward the sunshine, and shadows will fall behind you.” (Walt Whitman)

Saya ini kelelawar. Melek di malam hari, tidur sampai siang. Tiap pagi selimut mengajak saya meringkuk sebentar lagi, dan tiap pagi saya mengiyakan dengan anggukan dan senyum setuju, seperti karyawan yang baik.

Dua tahun terakhir saya mencoba membangkang pada yang alami. Menggeser circadian rhythm saya, dari kelelawar menjadi ayam.

Alasannya macam-macam. Mungkin karena saya sedang latihan untuk marathon, dan lari malam-malam kok rasanya ngeri. Mungkin karena pagi menjanjikan ketenangan. Mungkin karena saya termakan janji manis Robin Sharma di 5 AM Book Club. Pendek kata, saya bertekad bangun pagi, dan orang yang paling heran dengan tekad itu adalah saya sendiri.

Hasilnya lumayan. Menurut tracking app yang saya pakai, success rate-nya 93%. Rahasianya tiga alarm.

Yip. Tiga alarm. Satu itu gegabah. Dua masih kurang. Tiga pas. Lebih dari tiga, kamu cuma sedang memusuhi diri sendiri.

Kalau kamu mau coba bangun pagi juga, silakan. Lumayan manjur.

Jujur saja, sampai hari ini bangun pagi masih tidak nyaman buat saya. Dan bangun pagi tidak otomatis bikin produktif. Beberapa bulan pertama, pagi-pagi yang saya rebut dengan susah payah itu saya pakai untuk menonton highlight bola. Jamnya sudah benar. Niatnya yang belum.

Saya masih mencoba sampai hari ini. Melakukan yang tidak nyaman, dengan harapan kecil bahwa kalau bagian tersulit hari ini sudah lewat, sisanya akan sedikit lebih ringan.


Tapi ceritanya lebih panjang dari tiga alarm.

Perang dengan circadian rhythm

Circadian rhythm, jam biologis 24 jam di tubuh kita, ternyata bukan istilah ilmiah yang dipakai supaya terdengar keren. Ia nyata, bisa diukur, dan buat orang seperti saya, ia lawan yang berat.

Matthew Walker, profesor neuroscience di UC Berkeley dan penulis Why We Sleep, menunjukkan bahwa chronotype seseorang (apakah kamu night owl atau morning lark) sebagian besar ditentukan genetik. Jadi ini lebih banyak soal biologi daripada soal disiplin.

Artinya, setiap kali saya, night owl tulen, memaksa diri bangun jam 5 pagi, saya sedang berperang melawan DNA saya sendiri. Melodramatis, memang. Tapi begitulah rasanya, terutama di menit-menit pertama setelah alarm ketiga, ketika otak saya berteriak “TIDUR LAGI.”

Walker juga menulis bahwa memaksa night owl bangun pagi itu seperti memaksa orang kidal menulis dengan tangan kanan. Bisa, tapi tidak pernah benar-benar natural. Anehnya, ini menghibur. Paling tidak sekarang ada penjelasan ilmiah kenapa saya begitu payah.

Kabar baiknya, circadian rhythm bisa digeser, pelan-pelan, asal konsisten. Cahaya pagi membantu. Tidur di jam yang sama setiap malam membantu. Mengurangi blue light sebelum tidur membantu. Dan ya, alarm yang banyak juga membantu.

Ritual pagi yang berantakan

Ada industri besar yang dibangun di atas “morning routine.” Podcast, buku, video YouTube, semuanya bercerita tentang orang sukses yang bangun jam 4, meditasi 30 menit, journaling, cold shower, lari 10km, membaca satu bab buku, lalu sarapan superfood. Semua sebelum jam 7.

Morning routine saya tidak begitu.

Beberapa bulan pertama, seperti sudah saya akui, isinya highlight bola. Kadang saya bangun, duduk di sofa, dan menatap dinding dua puluh menit. Kadang saya bikin kopi lalu lupa meminumnya sampai dingin. Kadang saya membuka laptop dengan niat suci, dan satu jam kemudian masih scrolling Twitter.

Ini bukan inspirational content. Ini laporan lapangan.

Pelan-pelan, sangat pelan, pagi yang berantakan itu mulai punya bentuk. Tidak ada formula ajaib. Setelah cukup banyak pagi yang terbuang, otak saya sepertinya mulai menganggap jam itu miliknya, lalu mulai mengisinya dengan yang berguna. Kadang menulis, kadang berpikir, kadang stretching sederhana sebelum lari.

Isinya berganti-ganti. Jamnya yang tetap. Dan ternyata yang membentuk kebiasaan saya itu jamnya, bukan isinya.

Lari di pagi hari

Alasan terbesar saya bangun pagi adalah lari. Dan lari pagi di Jogja itu susah dijelaskan kepada orang yang belum pernah mencobanya.

Jam 5:15. Langit di barat masih gelap, di timur sudah ada semburat oranye. Udaranya sejuk. Bukan dingin, Jogja jarang dingin, tapi cukup sejuk sampai napas terasa segar. Jalanan masih sepi. Kadang ada tukang becak yang baru bangun, atau ibu-ibu yang sudah menyapu halaman.

Waktu mulai lari, kepala saya masih berantakan. Kerjaan, task list yang belum beres, email yang belum dibalas. Setelah kilometer kedua atau ketiga, semuanya mulai jernih. Seperti air keruh yang didiamkan. Kotorannya mengendap, airnya bening.

Haruki Murakami, novelis yang juga pelari marathon, menulis dalam What I Talk About When I Talk About Running: “I run in order to acquire a void.” Lari untuk mendapatkan kekosongan. Kedengarannya filosofis, tapi buat saya ini urusan praktis. Lari membersihkan kepala saya dengan cara yang tidak bisa ditiru meditasi, journaling, atau apa pun yang pernah saya coba.

Saya lebih suka lari pagi daripada sore atau malam. Manfaat fisiknya mungkin sama saja (menurut riset, timing olahraga itu personal). Saya suka pagi karena belum ada yang bisa mengganggu. Belum ada email masuk. Belum ada WhatsApp berbunyi. Belum ada meeting. Jam itu masih milik saya sendiri.

Filosofi melakukan yang sulit lebih dulu

Mark Twain (konon) bilang: “Eat a live frog first thing in the morning, and nothing worse will happen to you the rest of the day.”

Saya belum pernah makan katak. Tapi bangun ketika tubuh masih ingin tidur, lari ketika otot masih kaku, berpikir ketika otak masih kabur, rasanya kurang lebih begitu. Yang terlatih ternyata resilience, dan buat saya itu lebih berguna dari produktivitas.

Nassim Taleb menulis tentang “antifragile”, sistem yang justru menjadi lebih kuat karena tekanan. Tulang yang diberi beban jadi lebih padat. Otot yang robek saat latihan tumbuh lebih besar. Dan mungkin, ini hipotesis pribadi saya yang belum pernah diuji siapa pun, tekad yang diuji setiap pagi jadi sedikit lebih tajam.

Saya tidak punya bukti ilmiah bahwa bangun pagi membuat sisa hari lebih mudah. Yang saya punya cuma pengamatan. Di hari-hari ketika saya berhasil bangun dan lari, saya lebih sabar di meeting, lebih fokus waktu ngoding, lebih tenang menghadapi masalah. Larinya tidak ajaib. Saya cuma sudah “menang” satu kali hari itu, melawan selimut, dan sisa hari jadi terasa lebih ringan.

93% dan 7% yang lain

93% kedengarannya mengesankan. Jadi biar saya ceritakan yang 7%.

Ada pagi ketika alarm ketiga berbunyi dan saya mematikannya tanpa membuka mata. Ada pagi ketika saya bangun, melihat hujan deras di luar jendela, dan memutuskan bahwa semesta sedang memberi tanda. Ada pagi ketika saya tidur terlalu larut, karena deadline, karena ngobrol, karena overthinking, dan tubuh saya menolak kooperatif.

Pagi-pagi itu membuat saya berdamai dengan satu hal: gagal bangun pagi bukan kegagalan moral. Tidak berarti kamu lemah. Tidak berarti kamu tidak disiplin. Artinya kamu manusia, dan semalam kamu tidur terlalu larut.

Kebiasaan saya bertahan bukan karena saya tidak pernah gagal. Saya cuma kembali lagi. Gagal hari Selasa, bangun lagi hari Rabu. Tanpa drama, tanpa menghukum diri sendiri.

Dua tahun kemudian

Dua tahun setelah eksperimen ini dimulai, saya masih bukan morning person. Saya tidak pernah jadi orang yang bangun dengan senyum cerah dan rasa syukur atas hari yang baru. Setiap pagi masih perang. Setiap pagi masih tidak nyaman.

Tapi saya sudah berhenti mencoba jadi morning person. Saya cukup jadi orang yang bangun pagi. Morning person menikmati pagi. Saya menoleransinya. Dan ternyata menoleransi pun sudah cukup.

Selimut masih mengajak. Kadang saya masih menyerah. Tapi lebih sering saya berdiri. Mematikan alarm ketiga. Membuat kopi. Mengikat tali sepatu lari.

Di luar, Jogja masih sejuk, langitnya pelan-pelan terang, dan jalanannya sepi.

Itu sudah cukup alasan.

Photo by Jonas Weckschmied on Unsplash

— Ganis

If that was any good

I send a letter when there’s a new essay. That’s the whole deal.